Minggu, 31 Agustus 2014

Waktu

Waktu yang kau beri telah lama mati
dalam kayu yang kita pelihara, sayang

Pada bapak tukang kayu aku menanya:
Apa mantra yang tanganmu rapal hingga kayumu
menjelma peti mati penyemayam waktu?
“Waktu itu eternal objects, tak abadi
ia akan hidup kala kau ingat, sementara
berapa putaran waktu kau lupai
sebelum ia masuk dalam kayu pusara?”

Sayang, aku tak melupakan waktu
terlalu berat saja kenangan yang harus kuikat
bersama waktuku darimu.


Mei 2014



Selengkapnya >>>

Senin, 25 Agustus 2014

Surat Untukmu, Ta


     Ta, banyak pujangga yang mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama, lalu menransformasikannya ke dalam alunan-alunan syair yang syahdu. Tapi aku tak mengalaminya padamu, Ta. Aku jatuh cinta, pada perhatian yang pertama padamu. Ketika pertama memperhatikan bulatnya bola matamu, sayunya tatapanmu, gembilnya pipimu, manisnya senyummu, pucatnya rupamu, lemasnya dirimu, serta menggilanya jiwamu pada perahu. Aku sadar bahwa aku telah memutuskan untuk melekatkan sayangku seketika itu juga.
     Ta, kau tahu? Jutaan detik, ribuan menit, serta ratusan hari telah aku lalui dengan mengenangnya. Setiap jalan yang kulewati, selalu terbayang hangat remasan tangannya di sela jemariku. Setiap buku yang kubaca, selalu terdapat rangkaian huruf yang menyebut namanya. Setiap tulisan yang tercipta, selalu terlumuri oleh unsur tentangnya. Dan setiap tempat yang kusambangi, selalu berharap dibarengi dengan senyum manis bibirnya, di sampingku. Tetapi, kau telah menuntunku untuk menjauh dari bayang yang telah lama kuikuti, Ta. Selama ini aku terjebak dalam bayang yang aku tak tahu seberapa luas panjang dan lebarnya. Sebuah bayang kenangan yang menahanku. Sebuah bayang yang memilukan.
      Ta, kau tahu kan, bahwa yang paling menyakitkan itu bukanlah sebuah perpisahan, melainkan ketika kita tak dipedulikan lagi? Bagaimana dia sudah tak ingin tahu hal apa yang kualami hari ini, bagaimana ia sudah tak ada keinginan mengirimkan sebuah pesan penuh pertanyaan dan kekhawatiran. Terlebih, bagaimana ia sudah ada objek baru untuk dituju. Sementara di lain sisi, aku selalu memikirkannya, bertanya-tanya apakah dia sudah makan atau belum, apakah sudah melunasi kewajibannya atau belum, atau apakah dia sedang sehat atau sedang sakit. Selalu membayangkan apa yang sedang dilakukannya. Serta selalu berharap untuk dia datang kembali padaku. Namun kenyataannya, bahwa dia tak peduli lagi dengan semua pertanyaan-pertanyaanku.
      Ta, aku telah memutuskan untuk pergi, untuk melepaskannya. Melepas bayangnya dan tak kuikuti lagi. Membiarkan bayangnya pergi menyusul raga dan rasa yang telah lebih dulu meninggalkanku. Dan aku telah menetapkannya semenjak aku menatap jauh ke dalam matamu, Ta. Dulu.


20 Agustus 2014
Selengkapnya >>>

Jumat, 15 Agustus 2014

Tentang Kesayangan


Suatu hari nanti, aku pasti akan memimpikanmu, sangat jelas dan nyata. Lalu aku akan tahu kalau takdirku bukanlah untuk menjadi seorang munafik yang berkata jika aku mencintaimu dengan sederhana seperti yang Damono tulis; bahwa aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada. Tuhan mengizinkanku menjadi wujud yang utuh dalam menyayangimu.
Aku telah menyayangimu hari ini, hari kemarin, dan hari-hari yang akan kita pijaki. Aku takkan mencoba untuk menyangkalnya. Karena semakin aku menentang, semakin pula hati ini untuk sadar bahwa sosok yang menjadi kesayangan dalam hidupku adalah kamu. Tak ada nama lain yang mampu menggetarkan saraf sensorik selain nama kesayanganku, kamu.
Aku berharap bahwa sadarku selalu berdo’a tentangmu, bahwa kedipku selalu membayang senyummu, bahwa langkahku selalu mengarah padamu, bahwa pagiku selalu tercium wangimu, bahwa sepiku selalu terpenuhi bayangmu. Bahwa aku berharap bahwa semua harapku selalu tersemat olehmu.
Ini semua adalah tentang kesayangan. Kesayangan terhadap sesuatu yang tak biasa, sesuatu yang istimewa. Aku mampu terbiasa dalam hidup dengan kamu sebagai latar belakangnya. Aku mampu terkena bisa rupamu yang mengadopsi segala indah bentuk paras. Aku mampu berburu dengan waktu dalam mengimbangimu. Aku mampu untuk mau.
Bila memang tulisan ini tentang kesayangan, maka arti tulisan ini adalah tentangmu, bukan aku. Benar?


Agustus 2014
Selengkapnya >>>

Selasa, 05 Agustus 2014

Cerita Tentangmu

Ini kutulis untukmu:

Hari ini, ketika matahari mencoba akrab dengan jingga, aku masih belum memiliki apa-apa lagi untuk kuberikan padamu. Sama seperti kemarin, yang ada di tanganku hanyalah selembar kertas kosong yang akan kucorat-coret dengan berbagai hal yang berkaitan denganmu, karena satu-satunya milikku yang tak akan pernah habis adalah cerita tentang dirimu. Penaku pun sangat sederhana, murni ciptaan tuhan berbentuk dua buah bibir yang saling mengatup, yang secara ajaib mengeluarkan cetakan kata-kata yang terlontar dan menempel secara apik pada kertasku.
Dari sekian banyak kata-kata yang tersusun, ada sebuah kata yang lain daripada yang lain. Kata yang bercetak tebal, yang memiliki bobot berbeda, yang memiliki daya hisap magis agar siapapun yang melihat coretan dalam kertasku, terlebih jika itu kamu, maka serta-merta fokus akan tertuju pada kata tersebut. Kata hanya terdiri dari lima huruf saja: namamu.
Kita sudah lama berpisah. Aku sudah tak mampu lagi untuk mengingat berapa ratus putaran jarum jam untuk menggambarkan lamanya waktu kita berpisah. Namun, aku masih ingat, bagaimana kau dengan senyum dinginmu mengucapkan selamat tinggal, bagaimana lesung pipitmu sejajar manis saat kita bercanda bersama. Bahkan aku masih ingat bagaimana rambutmu basah ketika langit menangis sore itu. Semoga saja coretanku ini memiliki kekuatan yang sama dengan rinduku untuk menahan waktu, agar kau bisa melihatku dari balik ramainya do’a untukmu. Pun aku, merasakan hangatnya hadir dirimu, dari balik cermin kerinduan yang sendiri.
Oh iya, aku juga masih membingkai rapi senyum pertamamu saat pertama kali kita menautkan dua pasang mata kita. Aku ingat artinya, bahwa senyumku adalah senyum yang aku sunggingkan untuk menarik perhatianmu, agar kita nantinya dapat sangat dekat, bahkan tanpa jarak, untuk bersama-sama menorehkan warna-warna yang sepadan dalam garis-garis senja. Lalu arti senyummu, tentu masih menjadi misteri dan akan tetap menjadi misteri karena kau tak pernah berkata barang satu halpun tentangnya. Namun aku menikmatinya. Menyelami misteri yang kau berikan untuk aku dalami di tengah waktu sunyiku. Agar aku dapat berharap bahwa ketika kelak aku menemukan jawabannya, aku akan bisa bersanding lagi denganmu, mencoba menceritakan arti yang kutemukan –yang pasti itu adalah bahagia– dan berharap kau akan membenarkannya.
Aku tak pernah menyangka bahwa kita pernah bersama. Kau adalah nama ajaib yang tuhan takdirkan untuk pernah berikan padaku. Sampai-sampai lewat tatapanmu saja, aku bisa mengartikan bahwa kau membisikkan bila suatu hari nanti kau pergi, aku tak boleh menangisimu. Cukup dengan mencorat-coret kertas dengan tinta warna jingga saja yang nantinya akan kualamatkan kepada namamu.
Terkadang, tak ada bendungan yang mampu menahan rinduku yang tebal juga nakal ini. Bila sudah menjadi, rinduku ini selalu meneriakkan namamu. Dan kalau saja aku tak menggubrisnya, ia akan semakin meningkatkan frekuensi teriakkan hingga selaput gendangku hampir-hampir tak mampu menahannya. Harus bagaimana aku? Sedang yang kurasakan, entah kau percaya atau tidak, namamu hampir selalu jadi yang pertama yang kunyanyikan ketika garis cakrawala mulai memuing dalam guratan kanvas senja.
Semoga tuhan mengabulkan do’aku: masih memberiku kesempatan, memberimu kesadaran, serta memberi kita waktu yang luang. Karena satu-satunya milikku yang tak akan pernah habis adalah cerita tentang dirimu, dan semua tentangmu. Dan selain coretan dalam kertas yang kupunya untukmu kali ini, lain kali akan kuhadiahkan senja padamu sebagai tanda rinduku yang mendalam, dalam balutan do’a.  

Agustus  2014
Selengkapnya >>>