Ini kutulis
untukmu:
Hari
ini, ketika matahari mencoba akrab dengan jingga, aku masih belum memiliki
apa-apa lagi untuk kuberikan padamu. Sama seperti kemarin, yang ada di tanganku
hanyalah selembar kertas kosong yang akan kucorat-coret dengan berbagai hal
yang berkaitan denganmu, karena satu-satunya milikku yang tak akan pernah habis
adalah cerita tentang dirimu. Penaku pun sangat sederhana, murni ciptaan tuhan
berbentuk dua buah bibir yang saling mengatup, yang secara ajaib mengeluarkan
cetakan kata-kata yang terlontar dan menempel secara apik pada kertasku.
Dari
sekian banyak kata-kata yang tersusun, ada sebuah kata yang lain daripada yang
lain. Kata yang bercetak tebal, yang memiliki bobot berbeda, yang memiliki daya
hisap magis agar siapapun yang melihat coretan dalam kertasku, terlebih jika
itu kamu, maka serta-merta fokus akan tertuju pada kata tersebut. Kata hanya
terdiri dari lima huruf saja: namamu.
Kita
sudah lama berpisah. Aku sudah tak mampu lagi untuk mengingat berapa ratus
putaran jarum jam untuk menggambarkan lamanya waktu kita berpisah. Namun, aku
masih ingat, bagaimana kau dengan senyum dinginmu mengucapkan selamat tinggal,
bagaimana lesung pipitmu sejajar manis saat kita bercanda bersama. Bahkan aku
masih ingat bagaimana rambutmu basah ketika langit menangis sore itu. Semoga saja
coretanku ini memiliki kekuatan yang sama dengan rinduku untuk menahan waktu,
agar kau bisa melihatku dari balik ramainya do’a untukmu. Pun aku, merasakan
hangatnya hadir dirimu, dari balik cermin kerinduan yang sendiri.
Oh
iya, aku juga masih membingkai rapi senyum pertamamu saat pertama kali kita
menautkan dua pasang mata kita. Aku ingat artinya, bahwa senyumku adalah senyum
yang aku sunggingkan untuk menarik perhatianmu, agar kita nantinya dapat sangat
dekat, bahkan tanpa jarak, untuk bersama-sama menorehkan warna-warna yang
sepadan dalam garis-garis senja. Lalu arti senyummu, tentu masih menjadi
misteri dan akan tetap menjadi misteri karena kau tak pernah berkata barang
satu halpun tentangnya. Namun aku menikmatinya. Menyelami misteri yang kau
berikan untuk aku dalami di tengah waktu sunyiku. Agar aku dapat berharap bahwa
ketika kelak aku menemukan jawabannya, aku akan bisa bersanding lagi denganmu,
mencoba menceritakan arti yang kutemukan –yang pasti itu adalah bahagia– dan
berharap kau akan membenarkannya.
Aku
tak pernah menyangka bahwa kita pernah bersama. Kau adalah nama ajaib yang
tuhan takdirkan untuk pernah berikan padaku. Sampai-sampai lewat tatapanmu
saja, aku bisa mengartikan bahwa kau membisikkan bila suatu hari nanti kau
pergi, aku tak boleh menangisimu. Cukup dengan mencorat-coret kertas dengan
tinta warna jingga saja yang nantinya akan kualamatkan kepada namamu.
Terkadang,
tak ada bendungan yang mampu menahan rinduku yang tebal juga nakal ini. Bila
sudah menjadi, rinduku ini selalu meneriakkan namamu. Dan kalau saja aku tak
menggubrisnya, ia akan semakin meningkatkan frekuensi teriakkan hingga selaput
gendangku hampir-hampir tak mampu menahannya. Harus bagaimana aku? Sedang yang
kurasakan, entah kau percaya atau tidak, namamu hampir selalu jadi yang pertama
yang kunyanyikan ketika garis cakrawala mulai memuing dalam guratan kanvas
senja.
Semoga
tuhan mengabulkan do’aku: masih memberiku kesempatan, memberimu kesadaran,
serta memberi kita waktu yang luang. Karena satu-satunya milikku yang tak akan
pernah habis adalah cerita tentang dirimu, dan semua tentangmu. Dan selain
coretan dalam kertas yang kupunya untukmu kali ini, lain kali akan kuhadiahkan
senja padamu sebagai tanda rinduku yang mendalam, dalam balutan do’a.
Agustus
2014
Selengkapnya >>>