Suatu hari nanti, aku pasti akan
memimpikanmu, sangat jelas dan nyata. Lalu aku akan tahu kalau takdirku
bukanlah untuk menjadi seorang munafik yang berkata jika aku mencintaimu dengan
sederhana seperti yang Damono tulis; bahwa aku
ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada. Tuhan mengizinkanku menjadi
wujud yang utuh dalam menyayangimu.
Aku telah menyayangimu hari ini,
hari kemarin, dan hari-hari yang akan kita pijaki. Aku takkan mencoba untuk
menyangkalnya. Karena semakin aku menentang, semakin pula hati ini untuk sadar
bahwa sosok yang menjadi kesayangan dalam hidupku adalah kamu. Tak ada nama
lain yang mampu menggetarkan saraf sensorik selain nama kesayanganku, kamu.
Aku berharap bahwa sadarku selalu
berdo’a tentangmu, bahwa kedipku selalu membayang senyummu, bahwa langkahku
selalu mengarah padamu, bahwa pagiku selalu tercium wangimu, bahwa sepiku
selalu terpenuhi bayangmu. Bahwa aku berharap bahwa semua harapku selalu
tersemat olehmu.
Ini semua adalah tentang
kesayangan. Kesayangan terhadap sesuatu yang tak biasa, sesuatu yang istimewa.
Aku mampu terbiasa dalam hidup dengan kamu sebagai latar belakangnya. Aku mampu
terkena bisa rupamu yang mengadopsi segala indah bentuk paras. Aku mampu
berburu dengan waktu dalam mengimbangimu. Aku mampu untuk mau.
Bila memang tulisan ini tentang
kesayangan, maka arti tulisan ini adalah tentangmu, bukan aku. Benar?
Agustus
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar