Jumat, 15 Agustus 2014

Tentang Kesayangan


Suatu hari nanti, aku pasti akan memimpikanmu, sangat jelas dan nyata. Lalu aku akan tahu kalau takdirku bukanlah untuk menjadi seorang munafik yang berkata jika aku mencintaimu dengan sederhana seperti yang Damono tulis; bahwa aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada. Tuhan mengizinkanku menjadi wujud yang utuh dalam menyayangimu.
Aku telah menyayangimu hari ini, hari kemarin, dan hari-hari yang akan kita pijaki. Aku takkan mencoba untuk menyangkalnya. Karena semakin aku menentang, semakin pula hati ini untuk sadar bahwa sosok yang menjadi kesayangan dalam hidupku adalah kamu. Tak ada nama lain yang mampu menggetarkan saraf sensorik selain nama kesayanganku, kamu.
Aku berharap bahwa sadarku selalu berdo’a tentangmu, bahwa kedipku selalu membayang senyummu, bahwa langkahku selalu mengarah padamu, bahwa pagiku selalu tercium wangimu, bahwa sepiku selalu terpenuhi bayangmu. Bahwa aku berharap bahwa semua harapku selalu tersemat olehmu.
Ini semua adalah tentang kesayangan. Kesayangan terhadap sesuatu yang tak biasa, sesuatu yang istimewa. Aku mampu terbiasa dalam hidup dengan kamu sebagai latar belakangnya. Aku mampu terkena bisa rupamu yang mengadopsi segala indah bentuk paras. Aku mampu berburu dengan waktu dalam mengimbangimu. Aku mampu untuk mau.
Bila memang tulisan ini tentang kesayangan, maka arti tulisan ini adalah tentangmu, bukan aku. Benar?


Agustus 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar