Selasa, 05 Agustus 2014

Cerita Tentangmu

Ini kutulis untukmu:

Hari ini, ketika matahari mencoba akrab dengan jingga, aku masih belum memiliki apa-apa lagi untuk kuberikan padamu. Sama seperti kemarin, yang ada di tanganku hanyalah selembar kertas kosong yang akan kucorat-coret dengan berbagai hal yang berkaitan denganmu, karena satu-satunya milikku yang tak akan pernah habis adalah cerita tentang dirimu. Penaku pun sangat sederhana, murni ciptaan tuhan berbentuk dua buah bibir yang saling mengatup, yang secara ajaib mengeluarkan cetakan kata-kata yang terlontar dan menempel secara apik pada kertasku.
Dari sekian banyak kata-kata yang tersusun, ada sebuah kata yang lain daripada yang lain. Kata yang bercetak tebal, yang memiliki bobot berbeda, yang memiliki daya hisap magis agar siapapun yang melihat coretan dalam kertasku, terlebih jika itu kamu, maka serta-merta fokus akan tertuju pada kata tersebut. Kata hanya terdiri dari lima huruf saja: namamu.
Kita sudah lama berpisah. Aku sudah tak mampu lagi untuk mengingat berapa ratus putaran jarum jam untuk menggambarkan lamanya waktu kita berpisah. Namun, aku masih ingat, bagaimana kau dengan senyum dinginmu mengucapkan selamat tinggal, bagaimana lesung pipitmu sejajar manis saat kita bercanda bersama. Bahkan aku masih ingat bagaimana rambutmu basah ketika langit menangis sore itu. Semoga saja coretanku ini memiliki kekuatan yang sama dengan rinduku untuk menahan waktu, agar kau bisa melihatku dari balik ramainya do’a untukmu. Pun aku, merasakan hangatnya hadir dirimu, dari balik cermin kerinduan yang sendiri.
Oh iya, aku juga masih membingkai rapi senyum pertamamu saat pertama kali kita menautkan dua pasang mata kita. Aku ingat artinya, bahwa senyumku adalah senyum yang aku sunggingkan untuk menarik perhatianmu, agar kita nantinya dapat sangat dekat, bahkan tanpa jarak, untuk bersama-sama menorehkan warna-warna yang sepadan dalam garis-garis senja. Lalu arti senyummu, tentu masih menjadi misteri dan akan tetap menjadi misteri karena kau tak pernah berkata barang satu halpun tentangnya. Namun aku menikmatinya. Menyelami misteri yang kau berikan untuk aku dalami di tengah waktu sunyiku. Agar aku dapat berharap bahwa ketika kelak aku menemukan jawabannya, aku akan bisa bersanding lagi denganmu, mencoba menceritakan arti yang kutemukan –yang pasti itu adalah bahagia– dan berharap kau akan membenarkannya.
Aku tak pernah menyangka bahwa kita pernah bersama. Kau adalah nama ajaib yang tuhan takdirkan untuk pernah berikan padaku. Sampai-sampai lewat tatapanmu saja, aku bisa mengartikan bahwa kau membisikkan bila suatu hari nanti kau pergi, aku tak boleh menangisimu. Cukup dengan mencorat-coret kertas dengan tinta warna jingga saja yang nantinya akan kualamatkan kepada namamu.
Terkadang, tak ada bendungan yang mampu menahan rinduku yang tebal juga nakal ini. Bila sudah menjadi, rinduku ini selalu meneriakkan namamu. Dan kalau saja aku tak menggubrisnya, ia akan semakin meningkatkan frekuensi teriakkan hingga selaput gendangku hampir-hampir tak mampu menahannya. Harus bagaimana aku? Sedang yang kurasakan, entah kau percaya atau tidak, namamu hampir selalu jadi yang pertama yang kunyanyikan ketika garis cakrawala mulai memuing dalam guratan kanvas senja.
Semoga tuhan mengabulkan do’aku: masih memberiku kesempatan, memberimu kesadaran, serta memberi kita waktu yang luang. Karena satu-satunya milikku yang tak akan pernah habis adalah cerita tentang dirimu, dan semua tentangmu. Dan selain coretan dalam kertas yang kupunya untukmu kali ini, lain kali akan kuhadiahkan senja padamu sebagai tanda rinduku yang mendalam, dalam balutan do’a.  

Agustus  2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar