Dua puluh menit aku habiskan waktu untuk duduk di
sini, di meja nomor tiga, di rumah makan yang biasa kudatangi bersama seseorang
yang sering membuatku berpikir kritis dalam menjawab pertanyaannya, Ayam Bakar
79. Aku tak akan melewati momen-momen terakhir ini tanpa puas menikmatinya.
Biar saja aku datang lebih awal dari waktu yang telah kusepakati dengannya.
Posisi meja yang sejajar rapi bagai deretan bunga di taman bunga Cipanas,
temaram lampu kuning di atas papan nama rumah makan ini, lalu-lalang para waiters berbaju abu-abu hitam, Yang Tercintanya Iwan Fals yang entah
mengapa sering mengalun, seolah menjadi lagu wajib tempat ini, serta ukiran-ukiran
khas Jogja di keenam tiang kokoh penyangga atap. Aku ingin merekam semua
komposisi tersebut secara utuh dalam memoriku, tanpa terkecuali.
Waiters
mendatangiku dengan daftar menu dan secarik kertas untuk pesananku. Kuterima
saja sambil tersenyum. Tak kuperhatikan benar ia, karena aku ingin melanjutkan
keasyikanku, memastikan bahwa semua yang ada di ruangan ini terekam dengan
baik, tanpa cacat. “Nanti saja, Mas.
Masih menunggu orang.” Kataku.
Lewat tujuh menit dari waktu yang disepakati, kau
datang dengan baju biru tua, dipadu jeans dan kerudung hitam. Tas dan sepatu
yang kau kenakan pun tak lepas dari
warna gelap. Namun, warna apapun akan selalu pantas bila kau yang
mengenakannya, pun bila perpaduan warna yang tak lazim, tetap cocok. Menurutku.
“Maaf,
lama menunggu?”
“Tak
apa, aku senang kau
datang.”
Kau duduk di hadapanku, tersenyum,
lalu menulis menu yang ingin kau pesan. Aku hanya memperhatikanmu, menatapmu tanpa
jeda, bagai singa yang telah mendapat sasaran mangsanya, tinggal menunggu waktu
yang tepat untuk menerkam.
“Apa
pesananmu?”
“Sama
denganmu, tapi tanpa air putih.” Jawabku.
Aku tahu segala kebiasaanmu. Bukan. Aku telah hafal
semuanya. Gayamu berbicara, pandaimu mengelak, tajamnya sorotan penuh tak
percaya matamu, jam-jammu pergi ke ranjang tidur, berapa lama waktu yang kau
perlukan untuk bersolek di depan cermin, kesenanganmu dalam memadukan warna
pakaian, kebiasaanmu bila kita makan di luar, semuanya. Termasuk prosesimu
sebelum menyantap makanan utama agar tak terlalu berpengaruh pada berat badan
yang katamu ideal itu, minum segelas air putih. Dan mungkin itu yang akan
banyak membantuku malam ini.
***
“Kenapa
kau terus memaksaku? Kau
tahu aku tak suka dipaksa, kan?
“Kalau
tak seperti ini, apa kau
mau memenuhi permintaanku? Maaf jika aku
memaksamu, tapi tolong penuhi apa mauku. Ini yang terakhir. Setelah itu,
terserah apa maumu.”
“Jika
aku menolak?”
“Tolonglah,
aku tak akan membahas apa yang telah lewat, atau memintamu untuk kembali. Aku
janji.”
“Baiklah,
besok jam delapan malam di Ayam Bakar 79.” katamu, dan setelah itu, kau tutup
sambungan telepon yang baru lima menit ini, tak seperti biasa yang bahkan satu
jam pun kurang.
***
Tak banyak kata yang keluar dari
mulutmu. Hanya senyum yang sesekali terurai di bibirmu. Tapi tak semanis
biasanya, senyummu itu hanya tampak sebagai guratan penghias wajah tanpa arti
apapun, tanpa ada keinginan untuk menggetarkan mata yang menatap senyummu.
Begitu pun aku. Hanya bernafas lirih tanpa mampu memalingkan wajah dari
wajahmu, seolah-olah kau menotok aliran darah tepat pada bagian leher. Entah
mengapa, kau selalu saja sukses untuk selalu merebut perhatianku padamu dari
keadaan sekitar.
Aku bingung, hal apa yang sebaiknya
dibicarakan untuk mencairkan kebekuan di antara kita, atau paling tidak, menjadi
pemantik pembicaraan kita. Karena sejujurnya, aku tak mempunyai pertanyaan
maupun pernyataan yang ingin kutujukan padamu. Aku hanya ingin melihat lagi
senyummu, senyum yang mungkin untuk terakhir kali kulihat. Ditambah lagi, tak
ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibirmu. Tatapan dan tingkahmu sangat
menunjukan rasa bosan, suntuk, dan mungkin berharap untuk cepat berakhir.
Mungkin saat ini kau merasa bahwa waktu tak memihak padamu. Terlalu lama untuk segera berlalu, ya?
“Tenang,
tak akan lama lagi.”
“Ya?”
“Oh,
bukan, tak apa.”
jawabku, dan memang tak akan lama lagi.
Pesanan datang. Seperti biasa, sebelum
makan, kau akan mencuci tanganmu di wastafel,
atau mungkin di toilet, yang letak keduanya jauh dari sini, dari meja nomor
tiga. Dan inilah yang aku harapkan.
“Aku
ke toilet dulu.” sambil merogoh tas yang kau bawa, mencari botol berisi cairan
pembersih kuman, kata iklan di televisi.
“Kau
terlalu khawatir, seperti biasa.”
“Biar saja”
***
“Sayang,
apa yang kau pikirkan?” tanyaku. Tiap kali kau diam, tahukah betapa banyaknya
kau munculkan praduga-praduga yang saling tumpang tindih, berbenturan, berusaha
membuat salah satu dari mereka menang?
Malam ini kita nikmati indahnya alam
lantai dua, menyaksikan beribu kerlip lampu bagai kunang-kunang yang indah,
dengan lebih beragam warna lagi selain kuning. Tapi tetap tak ada sinar
abu-abu, kesukaanmu. Saat-saat seperti inilah yang membuatku nyaman. Ada di
dekatmu, menikmati heningnnya waktu malam, tanpa perlu mendengar hiruk-pikuk
kesibukan anak Adam yang lain.
“Mungkin
kita mengawali hubungan kita ini dengan jalan yang tak begitu benar” katamu,
“tapi kita telah melewatinya hingga sejauh ini. Berartikah waktu yang telah
berlalu antara kita bagimu? Tak usah kau jawab, cukup kau pikirkan saja
sendiri, aku hanya sekedar ingin bercerita. Aku menganggap bahwa ini semua
terjadi tanpa kebetulan. Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang terjadi secara
kebetulan. Bagaimana kita katakan secara kebetulan bahwa kau yang jauh di sana,
dan aku yang juga jauh dari sisi yang lain, dapat bertemu di sini, di titik ini
jika itu bukan karena sudah diatur oleh-Nya?”
“Seperti
yang sudah pernah kau pinta, aku tahu arah pembicaraan ini. Tenang, aku tak
akan merusak apa yang telah menjadi pilihanku. Dan ingat, jangan selalu ingat
dari mana kita mulai semua ini. Cukup jalani saja.”
***
Aku menghitungnya. Bukan tanpa
sengaja, namun aku memang ingin menghitungnya, sampai suapan keberapa kau
akan mengakhiri makan malammu? Dan sendok terakhir masuk kedalam mulutmu, yang
hanya potongan kecil dari ayam bakar yang kau pesan dengan sedikit sambal di
atasnya, adalah suapan keduabelasmu. Mungkin caramu benar, dengan minum segelas
air putih dulu sebelum makan untuk membantumu cepat merasa kenyang hingga
kalori dan lemak yang akan masuk dalam tubuhmu lebih sedikit.
“Aku
ingin bertanya. Tak ada maksud apapun, hal ini hanya terlintas begitu saja di
kepalaku.”
“Apa?”
jawabmu datar.
“Aku
tak akan memintamu untuk kembali. Tapi paling tidak, berilah kejujuran yang
sebenarnya. Apa yang membuatmu untuk memilih jalan yang kau tapaki sekarang
ini?”
“Bukankah
aku sudah menjelaskannya secara detail kemarin sore? Kau lupa? Atau
melupakannya?”
“Jangan
paksa aku untuk percaya terhadap sesuatu yang tidak nyata. Pasti ada alasan
yang lebih kuat untuk menuntunmu ke dalam …”
“Cukup!
Itu yang terjadi dan itu yang sebenarnya terjadi! Semua sudah aku katakana padamu!!”
potongmu dengan suara yang cukup mengagetkanku, pun beberapa meja di sekeliling
meja kita.
“Tapi,
mana mungkin hanya seperti itu mampu untuk merubahmu? Dan juga.. Ah, sudahlah.
Mungkin aku memang harus percaya. Maafkan aku.”
“Hanya
seperti itu! Dan lagi, tak usah sok meminta maaf seperti itu. Aku muak
melihatmu terus-terusan meminta maaf, tapi selalu saja kau ulang-ulang hal yang
sama, lalu minta maaf lagi. Percuma!”
“Tapi..”
“Baru
saja kukatakan, dan kau
mengulanginya lagi dengan ‘tapi’mu itu kan? Ya, memang ada alasan lain mengapa aku
memilih pergi darimu! Jika kau
berpikir karena ada orang lain yang menyebabkan ini semua, kau benar! Puas kan kau sekarang!!”
“Tenanglah.
Dan terima kasih juga kau
sudah mau jujur padaku. Paling tidak, ini semua akan merubah semua pola pikirku
padamu.” Kataku lirih, dan berharap semoga perkataanku ini dapat menenangkanmu.
Hening. Hanya itu suasana yang aku
rasakan sekarang. Entah memang demikian, atau hanya di meja kita ini yang
hening. Tak ada kata apapun yang terdengar, hanya detak jam tangan yang kau
kenakan, degup jantungku, dan suara tenggorokanmu yang tengah meminum es jeruk
yang menurutku sedikit asam, bila rasa minummu sama dengan es jerukku. Tak ada
suara lain.
Mungkin hampir tiga menit kita larut
dalam kebisuan ini. Aku tak tahu, kau merasa puas, menyesal, berusaha
menenangkan dirimu, atau merasakan sesuatu yang lain, entah apa itu. Yang aku
tahu, mungkin sebentar lagi kau akan merasakan suatu hal yang aneh, yang belum
pernah kau rasakan sebelumnya.
Dan benar saja, kau mulai tampak gelisah.
“Kenapa?
Kau sakit?” tanyaku, basa-basi.
“Tak
usah berlagak peduli. Aku hanya sedikit pusing.” jawabmu, sambil memegang
kening dengan tangan kiri, sedangkan yang kanan meraih gelas berisi es jeruk
yang tinggal seperempat.
“Jangan
begitu, tenanglah. Tak usah kau pikirkan apa yang akan terjadi nantinya. Tapi,
jangan juga kau anggap remeh pusing. Mungkin setelah ini, kau akan
berkunang-kunang, mulas, atau mimisan, atau mungkin malah yang lain.”
“Apa
maksudmu?”
“Tenang
saja. Aku hanya memasukkan arsenik ke
air putih yang kau minum tadi.”
Yogyakarta, April 2013