Senin, 26 Mei 2014

Sepasang Mata itu

Aku ingin melihat sepasang mata itu
tatapku dengan tajamnya
yang menatapku beserta rasa yang dalam

Aku ingin melihat sepasang mata itu
yang menyajikan kesejukan sanubari
yang menunjukan keteduhan

Aku ingin melihat sepasang mata itu
yang membulat ceria dikala tersenyum
yang menunduk teduh saat tak kuat menahan

Aku ingin melihat sepasang mata itu
yang menawarkan keindahan
manyajikan tatapan sayang

Aku ingin melihat sepasang mata itu
Memilikinya sekali lagi


                                                                        September 2011
Selengkapnya >>>

Selasa, 20 Mei 2014

Lalu Bagaimana dengan Kita?


Lalu bagaimana dengan kita?
bertanya lagi apa yang mesti kulakukan
sementara waktu di antara betis kita
telah meregang merenggang
aku akan payah
sementara tadinya aku dan kamu
bagai gumpalan comolonimbus yang menggunung
yang terus meracau mengeja nama-nama kamu, kamu,
kamu, dan kamu

Lalu datang matahari yang cuma satu
aku dan kamu berebut untuk menyekapnya dalam saku
walau di mata mendung kita ia tak serupa bentuk
pun jalan yang kita tunjuk

Dan aku berbisik pada telingamu:
Bahwa kita pernah sedalam-dalam mengikat tali.


Mei 2014
teruntuk nama yang pernah sangat lekat
namun merenggang oleh jarak




Selengkapnya >>>

Minggu, 18 Mei 2014

Malam yang Tenang


Malam yang tenang 
melukiskan silhuet namamu melalui awan dan bintang
 
yang berpindah dikepakkan sayap burung gereja
 
yang bingung mengikuti naluri pulang
 
sinar merkuri terlalu banyak sebagai penuntunya
 
putih, kuning, merah
 
semua sama menyilaukan
 
sementara bulu yang lepas penanda jalan pulang
 
tersapu pembilang malam yang terus menggembala nafsu
 
di pojokan, di bawah atap, di persimpangan daun dan dahan
 

Lalu apa lagi yang mesti engkau dustakan?
 
segala ujung panah tepat menuju padamu
 
pada dada yang dikedua sisinya selalu bergejolak
 
merindu seorang di seberang kota
 

Coba saja kau berjalan dengan caraku:
 
tak lebih dari tiga batang rokok kretek
 
dan seplastik kopi pahit.
 

Mulai saja dari malam yang tenang
 
jangan takut hujan
 
tanya saja pada burung gereja
 
yang juga bingung mengikuti naluri pulang
 

Tak seperti siang tadi
 
ini malam yang tenang
 


Juni 2013


Selengkapnya >>>

Senin, 12 Mei 2014

Untuk Anda di Peraduan Hangat Anda


Saya telah menuliskan nama lengkap Anda pada lembar keenam kalender saya. Menuliskanya dengan huruf kapital. Semuanya. Agar saya dapat dengan mudah membacanya, walau dari kejauhan. Menuliskanya jauh-jauh hari sebelum saya membuat tulisan ini. Bukan karena keterbatasan ingatan saya, sehingga saya khawatir akan melupakan Anda. Bukan. Tetapi karena saya menginginkanya serta merefleksikan sebagian tentang Anda pada sesuatu yang ada pada dinding ruangan saya.
Malam ini saya lalui dengan perasaan yang tidak seperti malam-malam lainya. Bukan karena apa-apa, namun semua karena Anda seorang. Berpusat pada Anda. Hingga malam ini hening, sepi. Memecah tersebut, saya memainkan player saya, memutar beberapa lagu hingga sampai pada saat lagu ‘Kisah Cintaku’ mendapat giliran untuk mengalun. Saya mendengarnya dengan seksama. Ada beberapa bagian pada liriknya yang mengantarkan saya untuk memulai menulis ini, untuk Anda seorang.

Di malam yang sesunyi ini
Aku sendiri
Tiada yang menemani
Akhirnya kini kusadari
Dia telah pergi
Tinggalkan diriku

………

Mengapa terjadi
Kepada dirimu
Aku tak percaya kau telah tiada

Haruskah ku pergi tinggalkan dunia
Agar aku dapat berjumpa denganmu

………..

Lirik lagu yang bagus, mengena.

Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Tidak ada. Secara detail. Cukup hanya saya dan Anda saja yang mengetahuinya, atau malah, ini hanya pandangan satu sisi saja, tanpa Anda tahu. Tidak mengapa. Ini yang saya rasakan, tidak bisa lagi disebut sebagai rindu, rindu yang tertahan. Tidak dapat, dan tidak sama. Ini tidak seperti apa yang salah seorang pasangan rasakan ketika sudah sangat lama tidak bertemu dengan pasangan yang satunya. Tidak sama. Ini sangat jauh berbeda, melampaui itu semua. Melampaui perasaan yang dialami istri yang ditinggalkan suaminya untuk berlayar.
Sebenarnya, hampir tiap malamnya pada salah satu hari diantara satu minggu, entah kenapa saya selalu ingin mendatangi Anda, dan itu saya lakukan. Mendatangi tempat Anda yang kemungkinan juga akan menjadi tempat saya juga, kelak. Walaupun entah di mana, seperti apa, dan bagaimana nantinya. Tapi, hanya pada minggu pertama di Mei ini saya dapat bertatap muka dengan nama Anda secara langsung. Pagi hari, ketika induk ayam belum bersedia untuk pergi dari sarangnya karena belum diberi makan oleh si empunya, oleh tuanya. Pagi hari, ketika embun masih menggelayut hangat di tiap helai daun padi yang bersudut. Pagi hari, ketika jarak pandang mata masih terpaut sekitar dua puluhan meter saja. Pagi hari, ketika waktu subuh masih panjang untuk diakhiri. Hanya itu yang nyata, serta beberapa waktu yang telah lampau, yang terpaut jauh dari minggu pertama di Mei tersebut.
Bukan saya mendustai Anda, saya memang benar-benar mengalaminya pada tiap waktu yang saya sebut. Namun, hanya dalam mimpi, bunga tidur yang indah. Pada mimpi gelap saya. Tetapi, hanya dalam mimpi tersebut, saya dapat merasakan Anda secara nyata, secara lebih mendetail, secara langsung (ini tidak benar), secara utuh. Tidak seperti kenyataanya yang hanya mampu bertatap muka dengan deretan nama Anda. Huruf vokal dan konsonan yang terangkai secara apik menjadi sebuah nama yang diberikan oleh orang tua Anda.
Saya merindukan Anda. Sangat. Entah kenapa saya merasakan hal demikian. Padahal saya dan Anda sudah tidak bertemu untuk sekian tahun lamanya. Mungkin, akan habis beribu-ribu batang dupa untuk mengukur waktu sudah tak bersuanya antara saya dengan Anda. Seharusnya hal tersebut sudah dapat membuat saya melupakan Anda. Tetapi ternyata tidak demikian. Atau, malah tidak bersuanya saya dengan Anda yang membuat saya teramat sangat merasakan suatu abstrak yang dinamakan rindu ini.
Hari ini, dua belas Mei dua ribu dua belas, seharusnya saya dapat melaksanakan suatu perayaan bersama Anda, bersama tiga orang lainya yang juga berada di antara saya dan Anda. Tetapi kenyataanya tidak demikian. Hal yang terjadi justru kebalikanya. Tidak sesuai dengan apa yang seharusnya (yang saya katakan). Saya terdiam, saya merenung, larut dalam lamunan. seperti dalam penggalan salah satu lagu, lamunan membawamu kembali..
Sekarang, saya hanya dapat melakukan suatu hal yang disebut mengenang. Mengenang Anda yang sudah pergi. Melalui sekelumit kisah dan sedikit saksi bisu yang Anda tinggalkan setelah saya dan Anda menghabiskan waktu selama satu tahun dua puluh delapan hari. Ya, cukup singkat dan Anda sedang berada pada fase yang membuat saya merasa menyayangi Anda, mencintai Anda. Rasa yang belum sempat muncul terhadap sosok sebelum Anda hadir. Lagi-lagi, entah mengapa saya merasa demikian. Entah karena faktor usia, kematangan diri, menariknya Anda bagi saya, atau malah yang lainya. Saya tidak mengetahuinya.
Kembali pada rindu saya terhadap Anda. Sering saya bayangkan, betapa asiknya pergi berdua bersama Anda, atau bersama tiga yang lainya sekalian. Menghabiskan waktu bersama, makan bersama, membagi bulat telur dadar menjadi lima bagian, dan mancium wangi khas Anda. Ah, itu hanya berlaku dalam lamunan rindu saya.
Di sana, di tempat Anda sekarang tinggal menunggu dua orang yang Anda nantikan kedatanganya, apakah Anda juga merasakan apa yang saya rasakan terhadap Anda? Apakah Anda menginginkan hal yang ingin saya lakukan bersama dengan Anda? Saya memang tidak tahu dengan apa yang ada dalam pikiran Anda, saya tidak tahu dengan isi hati Anda. Merasa apa atau menginginkan apa.
Kemudian untuk hari ke dua belas di Mei tahun ini. Saya ingin memberikan sesuatu untuk Anda. Berbentuk. Berwujud. Namun, saya tetap tidak bisa, kan? Haruskah saya datang ke tempat Anda pada malam-malam untuk memberi sesuatu tersebut? Itu mungkin tidak boleh. Bukan mungkin lagi, tetapi itu memang tidak boleh. Mengingat status saya dan Anda yang sekarang sudah berbeda. Saya hanya dapat merapalkan beberapa kata yang dirangkaikan menjadi sesuatu yang dapat disebut sebagai do’a. Walaupun itu sebenarnya tidak Anda butuhkan. Karena, Anda pergi dari saya dalam keadaan tanpa dosa, suci, dan bersih. Berbeda dengan saya ini, yang sudah teramat kotor. Tanpa pemberian dari saya pun, saya yakin Anda pasti akan diberi sesuatu yang pantas oleh yang membuat saya dan Anda ada serta pernah bersua.
Saya ada sebuah kumpulan kata berbahasa asing yang sangat saya sukai dan mengena untuk diri saya pribadi. Sekumpulan kata yang selalu saja muncul tanpa saya sadari, ketika saya dengan sengaja atau tanpa sengaja berpikir dan mengenang tentang Anda..


Just for remember..
                He’s real in my eyes
                He in front of me
                But can’t touch him..
                                He is real in my life
                                But imposible to have him,
                                Ever...


Mengenang saat hari terakhir saya berpisah dengan Anda, sangat sakit rasanya. Bagaimana tidak? Dengan santainya saya menatap Anda yang sedang berbaring di ranjang putih, dengan prasangka yang saya pikir Anda sedang dalam kondisi baik-baik saja. Tapi ternyata tidak. Saya salah membaca mengenai Anda. Saya hanya bisa menyesalinya sekarang, terhadap waktu yang lampau, sama seperti apa yang biasa orang lakukan sebelum paham benar apa dampak buruk yang akan ditimbulkan. Saya sangat menyesal akan ketakmampuan saya dalam membaca Anda. Saya menyesal akan ketidaktahuan saya mengenai apa yang sebenarnya Anda sedang alami. Maafkan saya.
Penyebab Anda pergi dari saya, tetap satu hal tersebut yang terus saya yakni sampai sekarang ini. Memang jika itu takdir Tuhan yang berbicara, maka manusia seperti saya dan Anda hanya mampu terbungkam mulutnya dalam menghadapi takdir-Nya. Tapi bukan itu yang saya jadikan kambing hitam dari perpisahan saya dan Anda. Saya berpikir tentang buah laknat itu, yang menyebabkan hal ini terjadi. Buah laknat itu. Buah Pembunuh! Tapi tak lepas dari itu, bukan Anda yang salah, tapi saya dan tiga lainya karena dahulu juga menyukai buah pembunuh tersebut. Namun sekarang, saya, jangankan memakanya, menyentuhpun enggan. Buah Pembunuh!!
Saya merindukan Anda. Sangat. Dan saya tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Anda dengan rasa yang melanda saya ini. Saya hanya berharap, selalu bertandanglah pada saya, pada mimpi indah saya sebagai penghibur hati saya yang merindukan Anda ini..
Jangan lupakan saya dan tiga lainya di sini.
Semoga Anda Bahaga di Sana.
Aminn….. 

                Kemudian, saya pun melanjutkan pemutaran player saya yang sempat terhenti beberapa waktu lamanya. Membiarkanya memutar lagu kembali, sebagai pengantar raga yang sedang merindu dan merasakan kelelahan ini, menuju peraduan yang lain dari peraduan milik Anda…

………

Baiknya

Kehilangan dirimu menyakitkan nurani
Separuh nyawa terbawa
Menyisakan perih di hatiku

Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak kubalut dengan tangis
Baiknya setiap kerinduan yang merajam
Tak ku ratapi penuh penyesalan

Ku hanya terus berharap
Ini bukan kenyataan
Kau pergi tinggalkan dunia fana
Akhiri kisah asmara kita berdua

Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak kubalut dengan tangis
Baiknya ku lepaskan segala kepedihan
Tuk merelakanmu

Mengapa semua ini terjadi
Betapa ku mencintai dirimu
Ku tak kuasa menahan kesedihan
Yang begitu dalam


Mei 2012


     saya kangen, 2014
Selengkapnya >>>

Maafkan Aku


Izinkan aku mengenang, tentangmu yang biasa saya panggil, Do.
mengenang tentangmu yang biasa kusapa tiap pagi,
dulu

Hari itu, adalah terakhir kali kudapat lihat nyata sosokmu
bukan karena saya menangisi perpisahan antara aku dan engkau,
                                  menyesali pertemuan antara aku dan engkau, atau
                                  menggugat takdir antara aku dan engkau
hanya saja, aku merasa bahwa waktu terlalu singkat untuk kau ada
di sisiku

Untukmu,
tolong, ajari aku untuk bisa tegar
bukan sekedar sabar,
bukan sekedar tenang,
tapi lebih dari sebutan ikhlas
merelakan engkau pergi yang memang untuk selamanya

Namun, catatan yang terlanjur tergores tentang dirimu ini, masih melekat
erat dalam-dalam, jauh di lubuk sanubari

Maafkan aku, yang terlalu rapuh menghadapi ini
aku tidak bisa sekuat yang orang katakan
untuk melewati bagian cerita ini


                  Februari 2012
Selengkapnya >>>

Jumat, 09 Mei 2014

Balada Sesosok Ibu



Tak hanya sembilan bulan kau repot dan jengah
menanti
menanti buah hati yang tak kau tahu
akan jadi apa besok?
atau lusa?

Kau relakan semuanya untuk
ku
kau suka durian, ikan laut, bulir-bulir jengkol
tapi saat aku mendiami rahim sempitmu, aku melarangmu makan itu semua
aku tak mau dan muak
dan kau tak marah
kau rela tinggalkan semua, untu
kku

Gemuk
,
sesuatu yang sangat kau hindari
, bahkan kau benci
tapi kau bersedia saja tanpa syarat
mengandungku yang membuat perutmu membuncit

Mengejan, mempertaruhkan nyawa yang telah kau jaga sedari kecil
hanya untuk mengeluarkanku, agar aku bisa menikmati indah duniamu
kau tak berpikir akan ancaman nyawamu

Waktu,
siang sore, malam
bahkan pagi buta saat ayam belum berkokok
kau buka mata sayupmu yang baru tertutup beberapa jam
menggendongku, mengganti celana yang aku pipisi, hingga
aku terlelap lagi, entah kapan

Kasih sayangmu,
sampai-sampai putingmu aku gigit tiap har
i melecet memerah
kau tetap ikhlas memberiku asi sehatmu
walau kau selalu meringis sakit kubuatnya

Perhatianmu,
semerta-merta tercurah habis untuku
tak perduli sepasang mata disudut kamar itu
yang mencemburuiku
padahal ia yang telah meminangmu lebih dulu jauh sebelum aku

Apalagi soal biaya
rela kau
mengayuh tulang punggungmu
untuk biaya opname dan seabrek kebutuhan formulaku
jangan ditanya lag
i
semuanya itu kau lakukan untuku

Orok – bayi – balita – anak-anak – remaja
5 fase aku lalui
dan kau tak perlu lagi serepot dulu
lihatlah!
aku sudah bisa makan sendiri
sudah bisa mandi sendiri
bahkan sudah bisa menggumuli anak orang
hahaha..
tapi aku tak setega itu, kok
tenang bu, aku selalu berangkat menuntut ilmu tiap pagi
tapi jangan salah sangka
, hanya berangkat!
aku minta uang untuk berfoya miras, rokok, dan PS bersama teman
tentu harus kau siapkan
wajib!
karna aku bilang itu uang buku dan uang bulanan.
dan lagi-lagi, tentu kau harus percaya
sepeda motor dengan alibi transportasi
handpone dan tablet dengan alasan komunikasi
semua fasilitas yang kau beri
haha..
ingin aku tertawa lepas
motor tak ubahnya roda dua yang terpakai
untuk pendukung maksiat
hp tak ubahnya hanya media koleksi film-film porno
tapi inilah kenyataan hidup, bu
, realitas!
jangan kau kaget

Pepatah itu,
air susu yang dibalas air tuba,
lumrah, bukan?
yang penting aku senang

Inilah kenyataanya, bu.
maafkan anakmu ini
entah kapan aku tersadar
membalas semua budi baikmu
tapi sempatkah?


Desember 2011


Selengkapnya >>>

Rabu, 07 Mei 2014

Jadi

Jadi
jadi apakah kita nanti?
sedang aku dan kau adalah sepasang jadi-jadian
dalam hati jadi begitu menjadi-jadi
kau jadikan aku?
aku jadikan kau?

Jadi:
aku dan kau telah menjadi
dalam ketiadaan


Mei
Selengkapnya >>>

Selasa, 06 Mei 2014

Meja Nomor Tiga


Dua puluh menit aku habiskan waktu untuk duduk di sini, di meja nomor tiga, di rumah makan yang biasa kudatangi bersama seseorang yang sering membuatku berpikir kritis dalam menjawab pertanyaannya, Ayam Bakar 79. Aku tak akan melewati momen-momen terakhir ini tanpa puas menikmatinya. Biar saja aku datang lebih awal dari waktu yang telah kusepakati dengannya. Posisi meja yang sejajar rapi bagai deretan bunga di taman bunga Cipanas, temaram lampu kuning di atas papan nama rumah makan ini, lalu-lalang para waiters berbaju abu-abu hitam, Yang Tercintanya Iwan Fals yang entah mengapa sering mengalun, seolah menjadi lagu wajib tempat ini, serta ukiran-ukiran khas Jogja di keenam tiang kokoh penyangga atap. Aku ingin merekam semua komposisi tersebut secara utuh dalam memoriku, tanpa terkecuali.
Waiters mendatangiku dengan daftar menu dan secarik kertas untuk pesananku. Kuterima saja sambil tersenyum. Tak kuperhatikan benar ia, karena aku ingin melanjutkan keasyikanku, memastikan bahwa semua yang ada di ruangan ini terekam dengan baik, tanpa cacat.  “Nanti saja, Mas. Masih menunggu orang.” Kataku.
Lewat tujuh menit dari waktu yang disepakati, kau datang dengan baju biru tua, dipadu jeans dan kerudung hitam. Tas dan sepatu yang kau kenakan pun tak lepas dari warna gelap. Namun, warna apapun akan selalu pantas bila kau yang mengenakannya, pun bila perpaduan warna yang tak lazim, tetap cocok. Menurutku.
“Maaf, lama menunggu?”
“Tak apa, aku senang kau datang.”
            Kau duduk di hadapanku, tersenyum, lalu menulis menu yang ingin kau pesan. Aku hanya memperhatikanmu, menatapmu tanpa jeda, bagai singa yang telah mendapat sasaran mangsanya, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menerkam.
“Apa pesananmu?”
“Sama denganmu, tapi tanpa air putih.” Jawabku.
Aku tahu segala kebiasaanmu. Bukan. Aku telah hafal semuanya. Gayamu berbicara, pandaimu mengelak, tajamnya sorotan penuh tak percaya matamu, jam-jammu pergi ke ranjang tidur, berapa lama waktu yang kau perlukan untuk bersolek di depan cermin, kesenanganmu dalam memadukan warna pakaian, kebiasaanmu bila kita makan di luar, semuanya. Termasuk prosesimu sebelum menyantap makanan utama agar tak terlalu berpengaruh pada berat badan yang katamu ideal itu, minum segelas air putih. Dan mungkin itu yang akan banyak membantuku malam ini.
***
“Kenapa kau terus memaksaku? Kau tahu aku tak suka dipaksa, kan?
“Kalau tak seperti ini, apa kau mau memenuhi permintaanku? Maaf jika aku memaksamu, tapi tolong penuhi apa mauku. Ini yang terakhir. Setelah itu, terserah apa maumu.”
“Jika aku menolak?”
“Tolonglah, aku tak akan membahas apa yang telah lewat, atau memintamu untuk kembali. Aku janji.”
“Baiklah, besok jam delapan malam di Ayam Bakar 79.” katamu, dan setelah itu, kau tutup sambungan telepon yang baru lima menit ini, tak seperti biasa yang bahkan satu jam pun kurang.
***
            Tak banyak kata yang keluar dari mulutmu. Hanya senyum yang sesekali terurai di bibirmu. Tapi tak semanis biasanya, senyummu itu hanya tampak sebagai guratan penghias wajah tanpa arti apapun, tanpa ada keinginan untuk menggetarkan mata yang menatap senyummu. Begitu pun aku. Hanya bernafas lirih tanpa mampu memalingkan wajah dari wajahmu, seolah-olah kau menotok aliran darah tepat pada bagian leher. Entah mengapa, kau selalu saja sukses untuk selalu merebut perhatianku padamu dari keadaan sekitar.
            Aku bingung, hal apa yang sebaiknya dibicarakan untuk mencairkan kebekuan di antara kita, atau paling tidak, menjadi pemantik pembicaraan kita. Karena sejujurnya, aku tak mempunyai pertanyaan maupun pernyataan yang ingin kutujukan padamu. Aku hanya ingin melihat lagi senyummu, senyum yang mungkin untuk terakhir kali kulihat. Ditambah lagi, tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibirmu. Tatapan dan tingkahmu sangat menunjukan rasa bosan, suntuk, dan mungkin berharap untuk cepat berakhir. Mungkin saat ini kau merasa bahwa waktu tak memihak padamu.  Terlalu lama untuk segera berlalu, ya?
“Tenang, tak akan lama lagi.”
“Ya?”
“Oh, bukan, tak apa.” jawabku, dan memang tak akan lama lagi.
            Pesanan datang. Seperti biasa, sebelum makan, kau akan mencuci tanganmu di wastafel, atau mungkin di toilet, yang letak keduanya jauh dari sini, dari meja nomor tiga. Dan inilah yang aku harapkan.
“Aku ke toilet dulu.” sambil merogoh tas yang kau bawa, mencari botol berisi cairan pembersih kuman, kata iklan di televisi.
“Kau terlalu khawatir, seperti biasa.”
“Biar saja”
***
“Sayang, apa yang kau pikirkan?” tanyaku. Tiap kali kau diam, tahukah betapa banyaknya kau munculkan praduga-praduga yang saling tumpang tindih, berbenturan, berusaha membuat salah satu dari mereka menang?
            Malam ini kita nikmati indahnya alam lantai dua, menyaksikan beribu kerlip lampu bagai kunang-kunang yang indah, dengan lebih beragam warna lagi selain kuning. Tapi tetap tak ada sinar abu-abu, kesukaanmu. Saat-saat seperti inilah yang membuatku nyaman. Ada di dekatmu, menikmati heningnnya waktu malam, tanpa perlu mendengar hiruk-pikuk kesibukan anak Adam yang lain.
“Mungkin kita mengawali hubungan kita ini dengan jalan yang tak begitu benar” katamu, “tapi kita telah melewatinya hingga sejauh ini. Berartikah waktu yang telah berlalu antara kita bagimu? Tak usah kau jawab, cukup kau pikirkan saja sendiri, aku hanya sekedar ingin bercerita. Aku menganggap bahwa ini semua terjadi tanpa kebetulan. Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Bagaimana kita katakan secara kebetulan bahwa kau yang jauh di sana, dan aku yang juga jauh dari sisi yang lain, dapat bertemu di sini, di titik ini jika itu bukan karena sudah diatur oleh-Nya?”
“Seperti yang sudah pernah kau pinta, aku tahu arah pembicaraan ini. Tenang, aku tak akan merusak apa yang telah menjadi pilihanku. Dan ingat, jangan selalu ingat dari mana kita mulai semua ini. Cukup jalani saja.”
***
            Aku menghitungnya. Bukan tanpa sengaja, namun aku memang ingin menghitungnya, sampai suapan keberapa kau akan mengakhiri makan malammu? Dan sendok terakhir masuk kedalam mulutmu, yang hanya potongan kecil dari ayam bakar yang kau pesan dengan sedikit sambal di atasnya, adalah suapan keduabelasmu. Mungkin caramu benar, dengan minum segelas air putih dulu sebelum makan untuk membantumu cepat merasa kenyang hingga kalori dan lemak yang akan masuk dalam tubuhmu lebih sedikit.
“Aku ingin bertanya. Tak ada maksud apapun, hal ini hanya terlintas begitu saja di kepalaku.”
“Apa?” jawabmu datar.
“Aku tak akan memintamu untuk kembali. Tapi paling tidak, berilah kejujuran yang sebenarnya. Apa yang membuatmu untuk memilih jalan yang kau tapaki sekarang ini?”
“Bukankah aku sudah menjelaskannya secara detail kemarin sore? Kau lupa? Atau melupakannya?”
“Jangan paksa aku untuk percaya terhadap sesuatu yang tidak nyata. Pasti ada alasan yang lebih kuat untuk menuntunmu ke dalam …”
“Cukup! Itu yang terjadi dan itu yang sebenarnya terjadi! Semua sudah aku katakana padamu!!” potongmu dengan suara yang cukup mengagetkanku, pun beberapa meja di sekeliling meja kita.
“Tapi, mana mungkin hanya seperti itu mampu untuk merubahmu? Dan juga.. Ah, sudahlah. Mungkin aku memang harus percaya. Maafkan aku.”
“Hanya seperti itu! Dan lagi, tak usah sok meminta maaf seperti itu. Aku muak melihatmu terus-terusan meminta maaf, tapi selalu saja kau ulang-ulang hal yang sama, lalu minta maaf lagi. Percuma!”
“Tapi..”
“Baru saja kukatakan, dan kau mengulanginya lagi dengan ‘tapi’mu itu kan? Ya, memang ada alasan lain mengapa aku memilih pergi darimu! Jika kau berpikir karena ada orang lain yang menyebabkan ini semua, kau benar! Puas kan kau sekarang!!”
“Tenanglah. Dan terima kasih juga kau sudah mau jujur padaku. Paling tidak, ini semua akan merubah semua pola pikirku padamu.” Kataku lirih, dan berharap semoga perkataanku ini dapat menenangkanmu.
            Hening. Hanya itu suasana yang aku rasakan sekarang. Entah memang demikian, atau hanya di meja kita ini yang hening. Tak ada kata apapun yang terdengar, hanya detak jam tangan yang kau kenakan, degup jantungku, dan suara tenggorokanmu yang tengah meminum es jeruk yang menurutku sedikit asam, bila rasa minummu sama dengan es jerukku. Tak ada suara lain.
            Mungkin hampir tiga menit kita larut dalam kebisuan ini. Aku tak tahu, kau merasa puas, menyesal, berusaha menenangkan dirimu, atau merasakan sesuatu yang lain, entah apa itu. Yang aku tahu, mungkin sebentar lagi kau akan merasakan suatu hal yang aneh, yang belum pernah kau rasakan sebelumnya.
            Dan benar saja, kau mulai tampak gelisah.
“Kenapa? Kau sakit?” tanyaku, basa-basi.
“Tak usah berlagak peduli. Aku hanya sedikit pusing.” jawabmu, sambil memegang kening dengan tangan kiri, sedangkan yang kanan meraih gelas berisi es jeruk yang tinggal seperempat.
“Jangan begitu, tenanglah. Tak usah kau pikirkan apa yang akan terjadi nantinya. Tapi, jangan juga kau anggap remeh pusing. Mungkin setelah ini, kau akan berkunang-kunang, mulas, atau mimisan, atau mungkin malah yang lain.”
“Apa maksudmu?”
“Tenang saja. Aku hanya memasukkan arsenik ke air putih yang kau minum tadi.”


Yogyakarta, April 2013
Selengkapnya >>>