Minggu, 18 Mei 2014

Malam yang Tenang


Malam yang tenang 
melukiskan silhuet namamu melalui awan dan bintang
 
yang berpindah dikepakkan sayap burung gereja
 
yang bingung mengikuti naluri pulang
 
sinar merkuri terlalu banyak sebagai penuntunya
 
putih, kuning, merah
 
semua sama menyilaukan
 
sementara bulu yang lepas penanda jalan pulang
 
tersapu pembilang malam yang terus menggembala nafsu
 
di pojokan, di bawah atap, di persimpangan daun dan dahan
 

Lalu apa lagi yang mesti engkau dustakan?
 
segala ujung panah tepat menuju padamu
 
pada dada yang dikedua sisinya selalu bergejolak
 
merindu seorang di seberang kota
 

Coba saja kau berjalan dengan caraku:
 
tak lebih dari tiga batang rokok kretek
 
dan seplastik kopi pahit.
 

Mulai saja dari malam yang tenang
 
jangan takut hujan
 
tanya saja pada burung gereja
 
yang juga bingung mengikuti naluri pulang
 

Tak seperti siang tadi
 
ini malam yang tenang
 


Juni 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar