Tak hanya sembilan bulan kau repot dan jengah
menanti
menanti buah hati yang tak kau tahu
akan jadi apa besok?
atau lusa?
Kau relakan semuanya untukku
kau suka durian, ikan laut, bulir-bulir jengkol
tapi saat aku mendiami rahim sempitmu, aku melarangmu makan itu semua
aku tak mau dan muak
dan kau tak marah
kau rela tinggalkan semua, untukku
Gemuk,
sesuatu yang sangat kau hindari, bahkan kau benci
tapi kau bersedia saja tanpa syarat
menanti
menanti buah hati yang tak kau tahu
akan jadi apa besok?
atau lusa?
Kau relakan semuanya untukku
kau suka durian, ikan laut, bulir-bulir jengkol
tapi saat aku mendiami rahim sempitmu, aku melarangmu makan itu semua
aku tak mau dan muak
dan kau tak marah
kau rela tinggalkan semua, untukku
Gemuk,
sesuatu yang sangat kau hindari, bahkan kau benci
tapi kau bersedia saja tanpa syarat
mengandungku yang membuat perutmu membuncit
Mengejan, mempertaruhkan nyawa yang telah kau jaga sedari kecil
Mengejan, mempertaruhkan nyawa yang telah kau jaga sedari kecil
hanya untuk mengeluarkanku, agar aku bisa menikmati
indah duniamu
kau tak berpikir akan ancaman nyawamu
Waktu,
kau tak berpikir akan ancaman nyawamu
Waktu,
siang sore, malam
bahkan pagi buta saat ayam belum berkokok
kau buka mata sayupmu yang baru tertutup beberapa jam
bahkan pagi buta saat ayam belum berkokok
kau buka mata sayupmu yang baru tertutup beberapa jam
menggendongku, mengganti celana yang aku pipisi,
hingga
aku terlelap lagi, entah kapan
Kasih sayangmu,
sampai-sampai putingmu aku gigit tiap hari melecet memerah
kau tetap ikhlas memberiku asi sehatmu
walau kau selalu meringis sakit kubuatnya
Perhatianmu,
Kasih sayangmu,
sampai-sampai putingmu aku gigit tiap hari melecet memerah
kau tetap ikhlas memberiku asi sehatmu
walau kau selalu meringis sakit kubuatnya
Perhatianmu,
semerta-merta tercurah habis untuku
tak perduli sepasang mata disudut kamar itu
yang mencemburuiku
padahal ia yang telah meminangmu lebih dulu jauh sebelum aku
Apalagi soal biaya
rela kau mengayuh tulang punggungmu
padahal ia yang telah meminangmu lebih dulu jauh sebelum aku
Apalagi soal biaya
rela kau mengayuh tulang punggungmu
untuk biaya opname dan seabrek kebutuhan formulaku
jangan ditanya lagi
semuanya itu kau lakukan untuku
jangan ditanya lagi
semuanya itu kau lakukan untuku
Orok – bayi – balita – anak-anak – remaja
5 fase aku lalui
dan kau tak perlu lagi serepot dulu
lihatlah!
aku sudah bisa makan sendiri
sudah bisa mandi sendiri
bahkan sudah bisa menggumuli anak orang
hahaha..
tapi aku tak setega itu, kok
tenang bu, aku selalu berangkat menuntut ilmu tiap pagi
tapi jangan salah sangka, hanya berangkat!
aku minta uang untuk berfoya miras, rokok, dan PS bersama teman
5 fase aku lalui
dan kau tak perlu lagi serepot dulu
lihatlah!
aku sudah bisa makan sendiri
sudah bisa mandi sendiri
bahkan sudah bisa menggumuli anak orang
hahaha..
tapi aku tak setega itu, kok
tenang bu, aku selalu berangkat menuntut ilmu tiap pagi
tapi jangan salah sangka, hanya berangkat!
aku minta uang untuk berfoya miras, rokok, dan PS bersama teman
tentu harus kau siapkan
wajib!
karna aku bilang itu uang buku dan uang bulanan.
dan lagi-lagi, tentu kau harus percaya
sepeda motor dengan alibi transportasi
handpone dan tablet dengan alasan komunikasi
semua fasilitas yang kau beri
haha..
ingin aku tertawa lepas
motor tak ubahnya roda dua yang terpakai
wajib!
karna aku bilang itu uang buku dan uang bulanan.
dan lagi-lagi, tentu kau harus percaya
sepeda motor dengan alibi transportasi
handpone dan tablet dengan alasan komunikasi
semua fasilitas yang kau beri
haha..
ingin aku tertawa lepas
motor tak ubahnya roda dua yang terpakai
untuk pendukung maksiat
hp tak ubahnya hanya media koleksi film-film porno
tapi inilah kenyataan hidup, bu, realitas!
jangan kau kaget
Pepatah itu,
air susu yang dibalas air tuba,
lumrah, bukan?
yang penting aku senang
Inilah kenyataanya, bu.
maafkan anakmu ini
entah kapan aku tersadar
membalas semua budi baikmu
tapi sempatkah?
hp tak ubahnya hanya media koleksi film-film porno
tapi inilah kenyataan hidup, bu, realitas!
jangan kau kaget
Pepatah itu,
air susu yang dibalas air tuba,
lumrah, bukan?
yang penting aku senang
Inilah kenyataanya, bu.
maafkan anakmu ini
entah kapan aku tersadar
membalas semua budi baikmu
tapi sempatkah?
Desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar