Selasa, 06 Mei 2014

Meja Nomor Tiga


Dua puluh menit aku habiskan waktu untuk duduk di sini, di meja nomor tiga, di rumah makan yang biasa kudatangi bersama seseorang yang sering membuatku berpikir kritis dalam menjawab pertanyaannya, Ayam Bakar 79. Aku tak akan melewati momen-momen terakhir ini tanpa puas menikmatinya. Biar saja aku datang lebih awal dari waktu yang telah kusepakati dengannya. Posisi meja yang sejajar rapi bagai deretan bunga di taman bunga Cipanas, temaram lampu kuning di atas papan nama rumah makan ini, lalu-lalang para waiters berbaju abu-abu hitam, Yang Tercintanya Iwan Fals yang entah mengapa sering mengalun, seolah menjadi lagu wajib tempat ini, serta ukiran-ukiran khas Jogja di keenam tiang kokoh penyangga atap. Aku ingin merekam semua komposisi tersebut secara utuh dalam memoriku, tanpa terkecuali.
Waiters mendatangiku dengan daftar menu dan secarik kertas untuk pesananku. Kuterima saja sambil tersenyum. Tak kuperhatikan benar ia, karena aku ingin melanjutkan keasyikanku, memastikan bahwa semua yang ada di ruangan ini terekam dengan baik, tanpa cacat.  “Nanti saja, Mas. Masih menunggu orang.” Kataku.
Lewat tujuh menit dari waktu yang disepakati, kau datang dengan baju biru tua, dipadu jeans dan kerudung hitam. Tas dan sepatu yang kau kenakan pun tak lepas dari warna gelap. Namun, warna apapun akan selalu pantas bila kau yang mengenakannya, pun bila perpaduan warna yang tak lazim, tetap cocok. Menurutku.
“Maaf, lama menunggu?”
“Tak apa, aku senang kau datang.”
            Kau duduk di hadapanku, tersenyum, lalu menulis menu yang ingin kau pesan. Aku hanya memperhatikanmu, menatapmu tanpa jeda, bagai singa yang telah mendapat sasaran mangsanya, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menerkam.
“Apa pesananmu?”
“Sama denganmu, tapi tanpa air putih.” Jawabku.
Aku tahu segala kebiasaanmu. Bukan. Aku telah hafal semuanya. Gayamu berbicara, pandaimu mengelak, tajamnya sorotan penuh tak percaya matamu, jam-jammu pergi ke ranjang tidur, berapa lama waktu yang kau perlukan untuk bersolek di depan cermin, kesenanganmu dalam memadukan warna pakaian, kebiasaanmu bila kita makan di luar, semuanya. Termasuk prosesimu sebelum menyantap makanan utama agar tak terlalu berpengaruh pada berat badan yang katamu ideal itu, minum segelas air putih. Dan mungkin itu yang akan banyak membantuku malam ini.
***
“Kenapa kau terus memaksaku? Kau tahu aku tak suka dipaksa, kan?
“Kalau tak seperti ini, apa kau mau memenuhi permintaanku? Maaf jika aku memaksamu, tapi tolong penuhi apa mauku. Ini yang terakhir. Setelah itu, terserah apa maumu.”
“Jika aku menolak?”
“Tolonglah, aku tak akan membahas apa yang telah lewat, atau memintamu untuk kembali. Aku janji.”
“Baiklah, besok jam delapan malam di Ayam Bakar 79.” katamu, dan setelah itu, kau tutup sambungan telepon yang baru lima menit ini, tak seperti biasa yang bahkan satu jam pun kurang.
***
            Tak banyak kata yang keluar dari mulutmu. Hanya senyum yang sesekali terurai di bibirmu. Tapi tak semanis biasanya, senyummu itu hanya tampak sebagai guratan penghias wajah tanpa arti apapun, tanpa ada keinginan untuk menggetarkan mata yang menatap senyummu. Begitu pun aku. Hanya bernafas lirih tanpa mampu memalingkan wajah dari wajahmu, seolah-olah kau menotok aliran darah tepat pada bagian leher. Entah mengapa, kau selalu saja sukses untuk selalu merebut perhatianku padamu dari keadaan sekitar.
            Aku bingung, hal apa yang sebaiknya dibicarakan untuk mencairkan kebekuan di antara kita, atau paling tidak, menjadi pemantik pembicaraan kita. Karena sejujurnya, aku tak mempunyai pertanyaan maupun pernyataan yang ingin kutujukan padamu. Aku hanya ingin melihat lagi senyummu, senyum yang mungkin untuk terakhir kali kulihat. Ditambah lagi, tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibirmu. Tatapan dan tingkahmu sangat menunjukan rasa bosan, suntuk, dan mungkin berharap untuk cepat berakhir. Mungkin saat ini kau merasa bahwa waktu tak memihak padamu.  Terlalu lama untuk segera berlalu, ya?
“Tenang, tak akan lama lagi.”
“Ya?”
“Oh, bukan, tak apa.” jawabku, dan memang tak akan lama lagi.
            Pesanan datang. Seperti biasa, sebelum makan, kau akan mencuci tanganmu di wastafel, atau mungkin di toilet, yang letak keduanya jauh dari sini, dari meja nomor tiga. Dan inilah yang aku harapkan.
“Aku ke toilet dulu.” sambil merogoh tas yang kau bawa, mencari botol berisi cairan pembersih kuman, kata iklan di televisi.
“Kau terlalu khawatir, seperti biasa.”
“Biar saja”
***
“Sayang, apa yang kau pikirkan?” tanyaku. Tiap kali kau diam, tahukah betapa banyaknya kau munculkan praduga-praduga yang saling tumpang tindih, berbenturan, berusaha membuat salah satu dari mereka menang?
            Malam ini kita nikmati indahnya alam lantai dua, menyaksikan beribu kerlip lampu bagai kunang-kunang yang indah, dengan lebih beragam warna lagi selain kuning. Tapi tetap tak ada sinar abu-abu, kesukaanmu. Saat-saat seperti inilah yang membuatku nyaman. Ada di dekatmu, menikmati heningnnya waktu malam, tanpa perlu mendengar hiruk-pikuk kesibukan anak Adam yang lain.
“Mungkin kita mengawali hubungan kita ini dengan jalan yang tak begitu benar” katamu, “tapi kita telah melewatinya hingga sejauh ini. Berartikah waktu yang telah berlalu antara kita bagimu? Tak usah kau jawab, cukup kau pikirkan saja sendiri, aku hanya sekedar ingin bercerita. Aku menganggap bahwa ini semua terjadi tanpa kebetulan. Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Bagaimana kita katakan secara kebetulan bahwa kau yang jauh di sana, dan aku yang juga jauh dari sisi yang lain, dapat bertemu di sini, di titik ini jika itu bukan karena sudah diatur oleh-Nya?”
“Seperti yang sudah pernah kau pinta, aku tahu arah pembicaraan ini. Tenang, aku tak akan merusak apa yang telah menjadi pilihanku. Dan ingat, jangan selalu ingat dari mana kita mulai semua ini. Cukup jalani saja.”
***
            Aku menghitungnya. Bukan tanpa sengaja, namun aku memang ingin menghitungnya, sampai suapan keberapa kau akan mengakhiri makan malammu? Dan sendok terakhir masuk kedalam mulutmu, yang hanya potongan kecil dari ayam bakar yang kau pesan dengan sedikit sambal di atasnya, adalah suapan keduabelasmu. Mungkin caramu benar, dengan minum segelas air putih dulu sebelum makan untuk membantumu cepat merasa kenyang hingga kalori dan lemak yang akan masuk dalam tubuhmu lebih sedikit.
“Aku ingin bertanya. Tak ada maksud apapun, hal ini hanya terlintas begitu saja di kepalaku.”
“Apa?” jawabmu datar.
“Aku tak akan memintamu untuk kembali. Tapi paling tidak, berilah kejujuran yang sebenarnya. Apa yang membuatmu untuk memilih jalan yang kau tapaki sekarang ini?”
“Bukankah aku sudah menjelaskannya secara detail kemarin sore? Kau lupa? Atau melupakannya?”
“Jangan paksa aku untuk percaya terhadap sesuatu yang tidak nyata. Pasti ada alasan yang lebih kuat untuk menuntunmu ke dalam …”
“Cukup! Itu yang terjadi dan itu yang sebenarnya terjadi! Semua sudah aku katakana padamu!!” potongmu dengan suara yang cukup mengagetkanku, pun beberapa meja di sekeliling meja kita.
“Tapi, mana mungkin hanya seperti itu mampu untuk merubahmu? Dan juga.. Ah, sudahlah. Mungkin aku memang harus percaya. Maafkan aku.”
“Hanya seperti itu! Dan lagi, tak usah sok meminta maaf seperti itu. Aku muak melihatmu terus-terusan meminta maaf, tapi selalu saja kau ulang-ulang hal yang sama, lalu minta maaf lagi. Percuma!”
“Tapi..”
“Baru saja kukatakan, dan kau mengulanginya lagi dengan ‘tapi’mu itu kan? Ya, memang ada alasan lain mengapa aku memilih pergi darimu! Jika kau berpikir karena ada orang lain yang menyebabkan ini semua, kau benar! Puas kan kau sekarang!!”
“Tenanglah. Dan terima kasih juga kau sudah mau jujur padaku. Paling tidak, ini semua akan merubah semua pola pikirku padamu.” Kataku lirih, dan berharap semoga perkataanku ini dapat menenangkanmu.
            Hening. Hanya itu suasana yang aku rasakan sekarang. Entah memang demikian, atau hanya di meja kita ini yang hening. Tak ada kata apapun yang terdengar, hanya detak jam tangan yang kau kenakan, degup jantungku, dan suara tenggorokanmu yang tengah meminum es jeruk yang menurutku sedikit asam, bila rasa minummu sama dengan es jerukku. Tak ada suara lain.
            Mungkin hampir tiga menit kita larut dalam kebisuan ini. Aku tak tahu, kau merasa puas, menyesal, berusaha menenangkan dirimu, atau merasakan sesuatu yang lain, entah apa itu. Yang aku tahu, mungkin sebentar lagi kau akan merasakan suatu hal yang aneh, yang belum pernah kau rasakan sebelumnya.
            Dan benar saja, kau mulai tampak gelisah.
“Kenapa? Kau sakit?” tanyaku, basa-basi.
“Tak usah berlagak peduli. Aku hanya sedikit pusing.” jawabmu, sambil memegang kening dengan tangan kiri, sedangkan yang kanan meraih gelas berisi es jeruk yang tinggal seperempat.
“Jangan begitu, tenanglah. Tak usah kau pikirkan apa yang akan terjadi nantinya. Tapi, jangan juga kau anggap remeh pusing. Mungkin setelah ini, kau akan berkunang-kunang, mulas, atau mimisan, atau mungkin malah yang lain.”
“Apa maksudmu?”
“Tenang saja. Aku hanya memasukkan arsenik ke air putih yang kau minum tadi.”


Yogyakarta, April 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar