Saya telah
menuliskan nama lengkap Anda pada lembar keenam kalender saya. Menuliskanya
dengan huruf kapital. Semuanya. Agar saya dapat dengan mudah membacanya, walau
dari kejauhan. Menuliskanya jauh-jauh hari sebelum saya membuat tulisan ini.
Bukan karena keterbatasan ingatan saya, sehingga saya khawatir akan melupakan Anda.
Bukan. Tetapi karena saya menginginkanya serta merefleksikan sebagian tentang Anda
pada sesuatu yang ada pada dinding ruangan saya.
Malam ini saya lalui
dengan perasaan yang tidak seperti malam-malam lainya. Bukan karena apa-apa,
namun semua karena Anda seorang. Berpusat pada Anda. Hingga malam ini hening,
sepi. Memecah tersebut, saya memainkan player saya, memutar beberapa lagu
hingga sampai pada saat lagu ‘Kisah Cintaku’ mendapat giliran untuk mengalun.
Saya mendengarnya dengan seksama. Ada beberapa bagian pada liriknya yang
mengantarkan saya untuk memulai menulis ini, untuk Anda seorang.
Di malam yang sesunyi ini
Aku sendiri
Tiada yang menemani
Akhirnya kini kusadari
Dia telah pergi
Tinggalkan diriku
………
Mengapa terjadi
Kepada dirimu
Aku tak percaya kau telah tiada
Haruskah ku pergi tinggalkan dunia
Agar aku dapat berjumpa denganmu
………..
Lirik lagu yang
bagus, mengena.
Tidak ada seorang pun
yang mengetahuinya. Tidak ada. Secara detail. Cukup hanya saya dan Anda saja
yang mengetahuinya, atau malah, ini hanya pandangan satu sisi saja, tanpa Anda
tahu. Tidak mengapa. Ini yang saya rasakan, tidak bisa lagi disebut sebagai
rindu, rindu yang tertahan. Tidak dapat, dan tidak sama. Ini tidak seperti apa
yang salah seorang pasangan rasakan ketika sudah sangat lama tidak bertemu
dengan pasangan yang satunya. Tidak sama. Ini sangat jauh berbeda, melampaui
itu semua. Melampaui perasaan yang dialami istri yang ditinggalkan suaminya
untuk berlayar.
Sebenarnya, hampir
tiap malamnya pada salah satu hari diantara satu minggu, entah kenapa saya
selalu ingin mendatangi Anda, dan itu saya lakukan. Mendatangi tempat Anda yang
kemungkinan juga akan menjadi tempat saya juga, kelak. Walaupun entah di mana,
seperti apa, dan bagaimana nantinya. Tapi, hanya pada minggu pertama di Mei ini
saya dapat bertatap muka dengan nama Anda secara langsung. Pagi hari, ketika
induk ayam belum bersedia untuk pergi dari sarangnya karena belum diberi makan
oleh si empunya, oleh tuanya. Pagi hari, ketika embun masih menggelayut hangat
di tiap helai daun padi yang bersudut. Pagi hari, ketika jarak pandang mata
masih terpaut sekitar dua puluhan meter saja. Pagi hari, ketika waktu subuh
masih panjang untuk diakhiri. Hanya itu yang nyata, serta beberapa waktu yang
telah lampau, yang terpaut jauh dari minggu pertama di Mei tersebut.
Bukan saya mendustai
Anda, saya memang benar-benar mengalaminya pada tiap waktu yang saya sebut.
Namun, hanya dalam mimpi, bunga tidur yang indah. Pada mimpi gelap saya.
Tetapi, hanya dalam mimpi tersebut, saya dapat merasakan Anda secara nyata,
secara lebih mendetail, secara langsung (ini tidak benar), secara utuh. Tidak
seperti kenyataanya yang hanya mampu bertatap muka dengan deretan nama Anda.
Huruf vokal dan konsonan yang terangkai secara apik menjadi sebuah nama yang
diberikan oleh orang tua Anda.
Saya merindukan Anda.
Sangat. Entah kenapa saya merasakan hal demikian. Padahal saya dan Anda sudah tidak
bertemu untuk sekian tahun lamanya. Mungkin, akan habis beribu-ribu batang dupa
untuk mengukur waktu sudah tak bersuanya antara saya dengan Anda. Seharusnya
hal tersebut sudah dapat membuat saya melupakan Anda. Tetapi ternyata tidak
demikian. Atau, malah tidak bersuanya saya dengan Anda yang membuat saya
teramat sangat merasakan suatu abstrak yang dinamakan rindu ini.
Hari ini, dua belas
Mei dua ribu dua belas, seharusnya saya dapat melaksanakan suatu perayaan
bersama Anda, bersama tiga orang lainya yang juga berada di antara saya dan Anda.
Tetapi kenyataanya tidak demikian. Hal yang terjadi justru kebalikanya. Tidak
sesuai dengan apa yang seharusnya (yang saya katakan). Saya terdiam, saya
merenung, larut dalam lamunan. seperti dalam penggalan salah satu lagu, lamunan membawamu kembali..
Sekarang, saya hanya
dapat melakukan suatu hal yang disebut mengenang. Mengenang Anda yang sudah
pergi. Melalui sekelumit kisah dan sedikit saksi bisu yang Anda tinggalkan
setelah saya dan Anda menghabiskan waktu selama satu tahun dua puluh delapan
hari. Ya, cukup singkat dan Anda sedang berada pada fase yang membuat saya
merasa menyayangi Anda, mencintai Anda. Rasa yang belum sempat muncul terhadap
sosok sebelum Anda hadir. Lagi-lagi, entah mengapa saya merasa demikian. Entah
karena faktor usia, kematangan diri, menariknya Anda bagi saya, atau malah yang
lainya. Saya tidak mengetahuinya.
Kembali pada rindu
saya terhadap Anda. Sering saya bayangkan, betapa asiknya pergi berdua bersama Anda,
atau bersama tiga yang lainya sekalian. Menghabiskan waktu bersama, makan
bersama, membagi bulat telur dadar menjadi lima bagian, dan mancium wangi khas Anda.
Ah, itu hanya berlaku dalam lamunan rindu saya.
Di sana, di tempat Anda
sekarang tinggal menunggu dua orang yang Anda nantikan kedatanganya, apakah Anda
juga merasakan apa yang saya rasakan terhadap Anda? Apakah Anda menginginkan
hal yang ingin saya lakukan bersama dengan Anda? Saya memang tidak tahu dengan
apa yang ada dalam pikiran Anda, saya tidak tahu dengan isi hati Anda. Merasa
apa atau menginginkan apa.
Kemudian untuk hari
ke dua belas di Mei tahun ini. Saya ingin memberikan sesuatu untuk Anda.
Berbentuk. Berwujud. Namun, saya tetap tidak bisa, kan? Haruskah saya datang ke
tempat Anda pada malam-malam untuk memberi sesuatu tersebut? Itu mungkin tidak
boleh. Bukan mungkin lagi, tetapi itu memang tidak boleh. Mengingat status saya
dan Anda yang sekarang sudah berbeda. Saya hanya dapat merapalkan beberapa kata
yang dirangkaikan menjadi sesuatu yang dapat disebut sebagai do’a. Walaupun itu
sebenarnya tidak Anda butuhkan. Karena, Anda pergi dari saya dalam keadaan
tanpa dosa, suci, dan bersih. Berbeda dengan saya ini, yang sudah teramat
kotor. Tanpa pemberian dari saya pun, saya yakin Anda pasti akan diberi sesuatu
yang pantas oleh yang membuat saya dan Anda ada serta pernah bersua.
Saya ada sebuah
kumpulan kata berbahasa asing yang sangat saya sukai dan mengena untuk diri
saya pribadi. Sekumpulan kata yang selalu saja muncul tanpa saya sadari, ketika
saya dengan sengaja atau tanpa sengaja berpikir dan mengenang tentang Anda..
Just for remember..
He’s
real in my eyes
He
in front of me
But
can’t touch him..
He
is real in my life
But
imposible to have him,
Ever...
Mengenang saat hari terakhir saya berpisah dengan Anda, sangat sakit rasanya.
Bagaimana tidak? Dengan santainya saya menatap Anda yang sedang berbaring di
ranjang putih, dengan prasangka yang saya pikir Anda sedang dalam kondisi baik-baik saja.
Tapi ternyata tidak. Saya salah membaca mengenai Anda. Saya hanya bisa
menyesalinya sekarang, terhadap waktu yang lampau, sama seperti apa yang biasa
orang lakukan sebelum paham benar apa dampak buruk yang akan ditimbulkan. Saya
sangat menyesal akan ketakmampuan saya dalam membaca Anda. Saya menyesal akan
ketidaktahuan saya mengenai apa yang sebenarnya Anda sedang alami. Maafkan
saya.
Penyebab Anda pergi dari saya, tetap satu hal tersebut yang terus saya
yakni sampai sekarang ini. Memang jika itu takdir Tuhan yang berbicara, maka
manusia seperti saya dan Anda hanya mampu terbungkam mulutnya dalam menghadapi
takdir-Nya. Tapi bukan itu yang saya jadikan kambing hitam dari perpisahan saya
dan Anda. Saya
berpikir tentang buah laknat itu, yang menyebabkan hal ini terjadi. Buah laknat
itu. Buah Pembunuh! Tapi tak lepas dari itu, bukan Anda yang salah, tapi saya
dan tiga lainya karena dahulu juga menyukai buah pembunuh tersebut. Namun
sekarang, saya, jangankan memakanya, menyentuhpun enggan. Buah Pembunuh!!
Saya merindukan Anda. Sangat. Dan saya tidak ingin mengganggu tidur nyenyak
Anda dengan rasa yang melanda saya ini. Saya hanya berharap, selalu bertandanglah pada saya, pada mimpi indah saya
sebagai penghibur hati saya yang merindukan Anda ini..
Jangan lupakan saya dan tiga lainya di sini.
Semoga Anda Bahaga di Sana.
Aminn…..
Kemudian, saya pun melanjutkan pemutaran player
saya yang sempat terhenti beberapa waktu lamanya. Membiarkanya memutar lagu
kembali, sebagai pengantar raga yang sedang merindu dan merasakan kelelahan
ini, menuju peraduan yang lain dari peraduan milik Anda…
………
Baiknya
Kehilangan dirimu menyakitkan nurani
Separuh nyawa terbawa
Menyisakan perih di hatiku
Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak kubalut dengan tangis
Baiknya setiap kerinduan yang merajam
Tak ku ratapi penuh penyesalan
Ku hanya terus berharap
Ini bukan kenyataan
Kau pergi tinggalkan dunia fana
Akhiri kisah asmara kita berdua
Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak kubalut dengan tangis
Baiknya ku lepaskan segala kepedihan
Tuk merelakanmu
Mengapa semua ini terjadi
Betapa ku mencintai dirimu
Ku tak kuasa menahan kesedihan
Yang begitu dalam
Mei 2012
saya kangen, 2014