Sabtu, 06 September 2014

Tertuju Satu Nama: Ta

Ta.

Kutulis di awal sajak
tertuju satu nama: Ta
paras ayumu, merayu sebiji mataku
dan sebiji mata yang satu
sayu, sampai aku meratap rindu
apalagi sendu senyummu, membuatku melaju,
memburu waktu agar tak lalu

Kurasa bisikmu sangat mengusik
menyelip dalam tiap pori kulit
sangat perlahan, namun rupawan
bisa aku tak terpesona? Tidak!
apalagi setelah kamu menatapku sengaja

Aku bisa:
demi detik merasa, demi hari menjaga, demi tahun menjelma
menjadi sandaranmu
sepasang lengan: kiri mengayun, kanan memeluk ragamu, erat
kaki pun rela melangkah mesra
lalu bibir tersenyum lega

Sajak-sajak tercipta untukmu
Maka kutulis di akhir juga, namamu
Memang tertuju satu nama: Ta.

                                                                                    5 September 2014


Selengkapnya >>>

Minggu, 31 Agustus 2014

Waktu

Waktu yang kau beri telah lama mati
dalam kayu yang kita pelihara, sayang

Pada bapak tukang kayu aku menanya:
Apa mantra yang tanganmu rapal hingga kayumu
menjelma peti mati penyemayam waktu?
“Waktu itu eternal objects, tak abadi
ia akan hidup kala kau ingat, sementara
berapa putaran waktu kau lupai
sebelum ia masuk dalam kayu pusara?”

Sayang, aku tak melupakan waktu
terlalu berat saja kenangan yang harus kuikat
bersama waktuku darimu.


Mei 2014



Selengkapnya >>>

Senin, 25 Agustus 2014

Surat Untukmu, Ta


     Ta, banyak pujangga yang mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama, lalu menransformasikannya ke dalam alunan-alunan syair yang syahdu. Tapi aku tak mengalaminya padamu, Ta. Aku jatuh cinta, pada perhatian yang pertama padamu. Ketika pertama memperhatikan bulatnya bola matamu, sayunya tatapanmu, gembilnya pipimu, manisnya senyummu, pucatnya rupamu, lemasnya dirimu, serta menggilanya jiwamu pada perahu. Aku sadar bahwa aku telah memutuskan untuk melekatkan sayangku seketika itu juga.
     Ta, kau tahu? Jutaan detik, ribuan menit, serta ratusan hari telah aku lalui dengan mengenangnya. Setiap jalan yang kulewati, selalu terbayang hangat remasan tangannya di sela jemariku. Setiap buku yang kubaca, selalu terdapat rangkaian huruf yang menyebut namanya. Setiap tulisan yang tercipta, selalu terlumuri oleh unsur tentangnya. Dan setiap tempat yang kusambangi, selalu berharap dibarengi dengan senyum manis bibirnya, di sampingku. Tetapi, kau telah menuntunku untuk menjauh dari bayang yang telah lama kuikuti, Ta. Selama ini aku terjebak dalam bayang yang aku tak tahu seberapa luas panjang dan lebarnya. Sebuah bayang kenangan yang menahanku. Sebuah bayang yang memilukan.
      Ta, kau tahu kan, bahwa yang paling menyakitkan itu bukanlah sebuah perpisahan, melainkan ketika kita tak dipedulikan lagi? Bagaimana dia sudah tak ingin tahu hal apa yang kualami hari ini, bagaimana ia sudah tak ada keinginan mengirimkan sebuah pesan penuh pertanyaan dan kekhawatiran. Terlebih, bagaimana ia sudah ada objek baru untuk dituju. Sementara di lain sisi, aku selalu memikirkannya, bertanya-tanya apakah dia sudah makan atau belum, apakah sudah melunasi kewajibannya atau belum, atau apakah dia sedang sehat atau sedang sakit. Selalu membayangkan apa yang sedang dilakukannya. Serta selalu berharap untuk dia datang kembali padaku. Namun kenyataannya, bahwa dia tak peduli lagi dengan semua pertanyaan-pertanyaanku.
      Ta, aku telah memutuskan untuk pergi, untuk melepaskannya. Melepas bayangnya dan tak kuikuti lagi. Membiarkan bayangnya pergi menyusul raga dan rasa yang telah lebih dulu meninggalkanku. Dan aku telah menetapkannya semenjak aku menatap jauh ke dalam matamu, Ta. Dulu.


20 Agustus 2014
Selengkapnya >>>

Jumat, 15 Agustus 2014

Tentang Kesayangan


Suatu hari nanti, aku pasti akan memimpikanmu, sangat jelas dan nyata. Lalu aku akan tahu kalau takdirku bukanlah untuk menjadi seorang munafik yang berkata jika aku mencintaimu dengan sederhana seperti yang Damono tulis; bahwa aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada. Tuhan mengizinkanku menjadi wujud yang utuh dalam menyayangimu.
Aku telah menyayangimu hari ini, hari kemarin, dan hari-hari yang akan kita pijaki. Aku takkan mencoba untuk menyangkalnya. Karena semakin aku menentang, semakin pula hati ini untuk sadar bahwa sosok yang menjadi kesayangan dalam hidupku adalah kamu. Tak ada nama lain yang mampu menggetarkan saraf sensorik selain nama kesayanganku, kamu.
Aku berharap bahwa sadarku selalu berdo’a tentangmu, bahwa kedipku selalu membayang senyummu, bahwa langkahku selalu mengarah padamu, bahwa pagiku selalu tercium wangimu, bahwa sepiku selalu terpenuhi bayangmu. Bahwa aku berharap bahwa semua harapku selalu tersemat olehmu.
Ini semua adalah tentang kesayangan. Kesayangan terhadap sesuatu yang tak biasa, sesuatu yang istimewa. Aku mampu terbiasa dalam hidup dengan kamu sebagai latar belakangnya. Aku mampu terkena bisa rupamu yang mengadopsi segala indah bentuk paras. Aku mampu berburu dengan waktu dalam mengimbangimu. Aku mampu untuk mau.
Bila memang tulisan ini tentang kesayangan, maka arti tulisan ini adalah tentangmu, bukan aku. Benar?


Agustus 2014
Selengkapnya >>>

Selasa, 05 Agustus 2014

Cerita Tentangmu

Ini kutulis untukmu:

Hari ini, ketika matahari mencoba akrab dengan jingga, aku masih belum memiliki apa-apa lagi untuk kuberikan padamu. Sama seperti kemarin, yang ada di tanganku hanyalah selembar kertas kosong yang akan kucorat-coret dengan berbagai hal yang berkaitan denganmu, karena satu-satunya milikku yang tak akan pernah habis adalah cerita tentang dirimu. Penaku pun sangat sederhana, murni ciptaan tuhan berbentuk dua buah bibir yang saling mengatup, yang secara ajaib mengeluarkan cetakan kata-kata yang terlontar dan menempel secara apik pada kertasku.
Dari sekian banyak kata-kata yang tersusun, ada sebuah kata yang lain daripada yang lain. Kata yang bercetak tebal, yang memiliki bobot berbeda, yang memiliki daya hisap magis agar siapapun yang melihat coretan dalam kertasku, terlebih jika itu kamu, maka serta-merta fokus akan tertuju pada kata tersebut. Kata hanya terdiri dari lima huruf saja: namamu.
Kita sudah lama berpisah. Aku sudah tak mampu lagi untuk mengingat berapa ratus putaran jarum jam untuk menggambarkan lamanya waktu kita berpisah. Namun, aku masih ingat, bagaimana kau dengan senyum dinginmu mengucapkan selamat tinggal, bagaimana lesung pipitmu sejajar manis saat kita bercanda bersama. Bahkan aku masih ingat bagaimana rambutmu basah ketika langit menangis sore itu. Semoga saja coretanku ini memiliki kekuatan yang sama dengan rinduku untuk menahan waktu, agar kau bisa melihatku dari balik ramainya do’a untukmu. Pun aku, merasakan hangatnya hadir dirimu, dari balik cermin kerinduan yang sendiri.
Oh iya, aku juga masih membingkai rapi senyum pertamamu saat pertama kali kita menautkan dua pasang mata kita. Aku ingat artinya, bahwa senyumku adalah senyum yang aku sunggingkan untuk menarik perhatianmu, agar kita nantinya dapat sangat dekat, bahkan tanpa jarak, untuk bersama-sama menorehkan warna-warna yang sepadan dalam garis-garis senja. Lalu arti senyummu, tentu masih menjadi misteri dan akan tetap menjadi misteri karena kau tak pernah berkata barang satu halpun tentangnya. Namun aku menikmatinya. Menyelami misteri yang kau berikan untuk aku dalami di tengah waktu sunyiku. Agar aku dapat berharap bahwa ketika kelak aku menemukan jawabannya, aku akan bisa bersanding lagi denganmu, mencoba menceritakan arti yang kutemukan –yang pasti itu adalah bahagia– dan berharap kau akan membenarkannya.
Aku tak pernah menyangka bahwa kita pernah bersama. Kau adalah nama ajaib yang tuhan takdirkan untuk pernah berikan padaku. Sampai-sampai lewat tatapanmu saja, aku bisa mengartikan bahwa kau membisikkan bila suatu hari nanti kau pergi, aku tak boleh menangisimu. Cukup dengan mencorat-coret kertas dengan tinta warna jingga saja yang nantinya akan kualamatkan kepada namamu.
Terkadang, tak ada bendungan yang mampu menahan rinduku yang tebal juga nakal ini. Bila sudah menjadi, rinduku ini selalu meneriakkan namamu. Dan kalau saja aku tak menggubrisnya, ia akan semakin meningkatkan frekuensi teriakkan hingga selaput gendangku hampir-hampir tak mampu menahannya. Harus bagaimana aku? Sedang yang kurasakan, entah kau percaya atau tidak, namamu hampir selalu jadi yang pertama yang kunyanyikan ketika garis cakrawala mulai memuing dalam guratan kanvas senja.
Semoga tuhan mengabulkan do’aku: masih memberiku kesempatan, memberimu kesadaran, serta memberi kita waktu yang luang. Karena satu-satunya milikku yang tak akan pernah habis adalah cerita tentang dirimu, dan semua tentangmu. Dan selain coretan dalam kertas yang kupunya untukmu kali ini, lain kali akan kuhadiahkan senja padamu sebagai tanda rinduku yang mendalam, dalam balutan do’a.  

Agustus  2014
Selengkapnya >>>

Senin, 09 Juni 2014

RIP TRP

Raga
Itu
Pulang

Tak
Rupa
Purwa
Selengkapnya >>>

Rabu, 04 Juni 2014

Dan Kau

Melalui masa-masa yang tak aku mau
Dan kau masih bercanda di atas sakitku mencemburuimu
Selengkapnya >>>

Senin, 26 Mei 2014

Sepasang Mata itu

Aku ingin melihat sepasang mata itu
tatapku dengan tajamnya
yang menatapku beserta rasa yang dalam

Aku ingin melihat sepasang mata itu
yang menyajikan kesejukan sanubari
yang menunjukan keteduhan

Aku ingin melihat sepasang mata itu
yang membulat ceria dikala tersenyum
yang menunduk teduh saat tak kuat menahan

Aku ingin melihat sepasang mata itu
yang menawarkan keindahan
manyajikan tatapan sayang

Aku ingin melihat sepasang mata itu
Memilikinya sekali lagi


                                                                        September 2011
Selengkapnya >>>

Selasa, 20 Mei 2014

Lalu Bagaimana dengan Kita?


Lalu bagaimana dengan kita?
bertanya lagi apa yang mesti kulakukan
sementara waktu di antara betis kita
telah meregang merenggang
aku akan payah
sementara tadinya aku dan kamu
bagai gumpalan comolonimbus yang menggunung
yang terus meracau mengeja nama-nama kamu, kamu,
kamu, dan kamu

Lalu datang matahari yang cuma satu
aku dan kamu berebut untuk menyekapnya dalam saku
walau di mata mendung kita ia tak serupa bentuk
pun jalan yang kita tunjuk

Dan aku berbisik pada telingamu:
Bahwa kita pernah sedalam-dalam mengikat tali.


Mei 2014
teruntuk nama yang pernah sangat lekat
namun merenggang oleh jarak




Selengkapnya >>>

Minggu, 18 Mei 2014

Malam yang Tenang


Malam yang tenang 
melukiskan silhuet namamu melalui awan dan bintang
 
yang berpindah dikepakkan sayap burung gereja
 
yang bingung mengikuti naluri pulang
 
sinar merkuri terlalu banyak sebagai penuntunya
 
putih, kuning, merah
 
semua sama menyilaukan
 
sementara bulu yang lepas penanda jalan pulang
 
tersapu pembilang malam yang terus menggembala nafsu
 
di pojokan, di bawah atap, di persimpangan daun dan dahan
 

Lalu apa lagi yang mesti engkau dustakan?
 
segala ujung panah tepat menuju padamu
 
pada dada yang dikedua sisinya selalu bergejolak
 
merindu seorang di seberang kota
 

Coba saja kau berjalan dengan caraku:
 
tak lebih dari tiga batang rokok kretek
 
dan seplastik kopi pahit.
 

Mulai saja dari malam yang tenang
 
jangan takut hujan
 
tanya saja pada burung gereja
 
yang juga bingung mengikuti naluri pulang
 

Tak seperti siang tadi
 
ini malam yang tenang
 


Juni 2013


Selengkapnya >>>

Senin, 12 Mei 2014

Untuk Anda di Peraduan Hangat Anda


Saya telah menuliskan nama lengkap Anda pada lembar keenam kalender saya. Menuliskanya dengan huruf kapital. Semuanya. Agar saya dapat dengan mudah membacanya, walau dari kejauhan. Menuliskanya jauh-jauh hari sebelum saya membuat tulisan ini. Bukan karena keterbatasan ingatan saya, sehingga saya khawatir akan melupakan Anda. Bukan. Tetapi karena saya menginginkanya serta merefleksikan sebagian tentang Anda pada sesuatu yang ada pada dinding ruangan saya.
Malam ini saya lalui dengan perasaan yang tidak seperti malam-malam lainya. Bukan karena apa-apa, namun semua karena Anda seorang. Berpusat pada Anda. Hingga malam ini hening, sepi. Memecah tersebut, saya memainkan player saya, memutar beberapa lagu hingga sampai pada saat lagu ‘Kisah Cintaku’ mendapat giliran untuk mengalun. Saya mendengarnya dengan seksama. Ada beberapa bagian pada liriknya yang mengantarkan saya untuk memulai menulis ini, untuk Anda seorang.

Di malam yang sesunyi ini
Aku sendiri
Tiada yang menemani
Akhirnya kini kusadari
Dia telah pergi
Tinggalkan diriku

………

Mengapa terjadi
Kepada dirimu
Aku tak percaya kau telah tiada

Haruskah ku pergi tinggalkan dunia
Agar aku dapat berjumpa denganmu

………..

Lirik lagu yang bagus, mengena.

Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Tidak ada. Secara detail. Cukup hanya saya dan Anda saja yang mengetahuinya, atau malah, ini hanya pandangan satu sisi saja, tanpa Anda tahu. Tidak mengapa. Ini yang saya rasakan, tidak bisa lagi disebut sebagai rindu, rindu yang tertahan. Tidak dapat, dan tidak sama. Ini tidak seperti apa yang salah seorang pasangan rasakan ketika sudah sangat lama tidak bertemu dengan pasangan yang satunya. Tidak sama. Ini sangat jauh berbeda, melampaui itu semua. Melampaui perasaan yang dialami istri yang ditinggalkan suaminya untuk berlayar.
Sebenarnya, hampir tiap malamnya pada salah satu hari diantara satu minggu, entah kenapa saya selalu ingin mendatangi Anda, dan itu saya lakukan. Mendatangi tempat Anda yang kemungkinan juga akan menjadi tempat saya juga, kelak. Walaupun entah di mana, seperti apa, dan bagaimana nantinya. Tapi, hanya pada minggu pertama di Mei ini saya dapat bertatap muka dengan nama Anda secara langsung. Pagi hari, ketika induk ayam belum bersedia untuk pergi dari sarangnya karena belum diberi makan oleh si empunya, oleh tuanya. Pagi hari, ketika embun masih menggelayut hangat di tiap helai daun padi yang bersudut. Pagi hari, ketika jarak pandang mata masih terpaut sekitar dua puluhan meter saja. Pagi hari, ketika waktu subuh masih panjang untuk diakhiri. Hanya itu yang nyata, serta beberapa waktu yang telah lampau, yang terpaut jauh dari minggu pertama di Mei tersebut.
Bukan saya mendustai Anda, saya memang benar-benar mengalaminya pada tiap waktu yang saya sebut. Namun, hanya dalam mimpi, bunga tidur yang indah. Pada mimpi gelap saya. Tetapi, hanya dalam mimpi tersebut, saya dapat merasakan Anda secara nyata, secara lebih mendetail, secara langsung (ini tidak benar), secara utuh. Tidak seperti kenyataanya yang hanya mampu bertatap muka dengan deretan nama Anda. Huruf vokal dan konsonan yang terangkai secara apik menjadi sebuah nama yang diberikan oleh orang tua Anda.
Saya merindukan Anda. Sangat. Entah kenapa saya merasakan hal demikian. Padahal saya dan Anda sudah tidak bertemu untuk sekian tahun lamanya. Mungkin, akan habis beribu-ribu batang dupa untuk mengukur waktu sudah tak bersuanya antara saya dengan Anda. Seharusnya hal tersebut sudah dapat membuat saya melupakan Anda. Tetapi ternyata tidak demikian. Atau, malah tidak bersuanya saya dengan Anda yang membuat saya teramat sangat merasakan suatu abstrak yang dinamakan rindu ini.
Hari ini, dua belas Mei dua ribu dua belas, seharusnya saya dapat melaksanakan suatu perayaan bersama Anda, bersama tiga orang lainya yang juga berada di antara saya dan Anda. Tetapi kenyataanya tidak demikian. Hal yang terjadi justru kebalikanya. Tidak sesuai dengan apa yang seharusnya (yang saya katakan). Saya terdiam, saya merenung, larut dalam lamunan. seperti dalam penggalan salah satu lagu, lamunan membawamu kembali..
Sekarang, saya hanya dapat melakukan suatu hal yang disebut mengenang. Mengenang Anda yang sudah pergi. Melalui sekelumit kisah dan sedikit saksi bisu yang Anda tinggalkan setelah saya dan Anda menghabiskan waktu selama satu tahun dua puluh delapan hari. Ya, cukup singkat dan Anda sedang berada pada fase yang membuat saya merasa menyayangi Anda, mencintai Anda. Rasa yang belum sempat muncul terhadap sosok sebelum Anda hadir. Lagi-lagi, entah mengapa saya merasa demikian. Entah karena faktor usia, kematangan diri, menariknya Anda bagi saya, atau malah yang lainya. Saya tidak mengetahuinya.
Kembali pada rindu saya terhadap Anda. Sering saya bayangkan, betapa asiknya pergi berdua bersama Anda, atau bersama tiga yang lainya sekalian. Menghabiskan waktu bersama, makan bersama, membagi bulat telur dadar menjadi lima bagian, dan mancium wangi khas Anda. Ah, itu hanya berlaku dalam lamunan rindu saya.
Di sana, di tempat Anda sekarang tinggal menunggu dua orang yang Anda nantikan kedatanganya, apakah Anda juga merasakan apa yang saya rasakan terhadap Anda? Apakah Anda menginginkan hal yang ingin saya lakukan bersama dengan Anda? Saya memang tidak tahu dengan apa yang ada dalam pikiran Anda, saya tidak tahu dengan isi hati Anda. Merasa apa atau menginginkan apa.
Kemudian untuk hari ke dua belas di Mei tahun ini. Saya ingin memberikan sesuatu untuk Anda. Berbentuk. Berwujud. Namun, saya tetap tidak bisa, kan? Haruskah saya datang ke tempat Anda pada malam-malam untuk memberi sesuatu tersebut? Itu mungkin tidak boleh. Bukan mungkin lagi, tetapi itu memang tidak boleh. Mengingat status saya dan Anda yang sekarang sudah berbeda. Saya hanya dapat merapalkan beberapa kata yang dirangkaikan menjadi sesuatu yang dapat disebut sebagai do’a. Walaupun itu sebenarnya tidak Anda butuhkan. Karena, Anda pergi dari saya dalam keadaan tanpa dosa, suci, dan bersih. Berbeda dengan saya ini, yang sudah teramat kotor. Tanpa pemberian dari saya pun, saya yakin Anda pasti akan diberi sesuatu yang pantas oleh yang membuat saya dan Anda ada serta pernah bersua.
Saya ada sebuah kumpulan kata berbahasa asing yang sangat saya sukai dan mengena untuk diri saya pribadi. Sekumpulan kata yang selalu saja muncul tanpa saya sadari, ketika saya dengan sengaja atau tanpa sengaja berpikir dan mengenang tentang Anda..


Just for remember..
                He’s real in my eyes
                He in front of me
                But can’t touch him..
                                He is real in my life
                                But imposible to have him,
                                Ever...


Mengenang saat hari terakhir saya berpisah dengan Anda, sangat sakit rasanya. Bagaimana tidak? Dengan santainya saya menatap Anda yang sedang berbaring di ranjang putih, dengan prasangka yang saya pikir Anda sedang dalam kondisi baik-baik saja. Tapi ternyata tidak. Saya salah membaca mengenai Anda. Saya hanya bisa menyesalinya sekarang, terhadap waktu yang lampau, sama seperti apa yang biasa orang lakukan sebelum paham benar apa dampak buruk yang akan ditimbulkan. Saya sangat menyesal akan ketakmampuan saya dalam membaca Anda. Saya menyesal akan ketidaktahuan saya mengenai apa yang sebenarnya Anda sedang alami. Maafkan saya.
Penyebab Anda pergi dari saya, tetap satu hal tersebut yang terus saya yakni sampai sekarang ini. Memang jika itu takdir Tuhan yang berbicara, maka manusia seperti saya dan Anda hanya mampu terbungkam mulutnya dalam menghadapi takdir-Nya. Tapi bukan itu yang saya jadikan kambing hitam dari perpisahan saya dan Anda. Saya berpikir tentang buah laknat itu, yang menyebabkan hal ini terjadi. Buah laknat itu. Buah Pembunuh! Tapi tak lepas dari itu, bukan Anda yang salah, tapi saya dan tiga lainya karena dahulu juga menyukai buah pembunuh tersebut. Namun sekarang, saya, jangankan memakanya, menyentuhpun enggan. Buah Pembunuh!!
Saya merindukan Anda. Sangat. Dan saya tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Anda dengan rasa yang melanda saya ini. Saya hanya berharap, selalu bertandanglah pada saya, pada mimpi indah saya sebagai penghibur hati saya yang merindukan Anda ini..
Jangan lupakan saya dan tiga lainya di sini.
Semoga Anda Bahaga di Sana.
Aminn….. 

                Kemudian, saya pun melanjutkan pemutaran player saya yang sempat terhenti beberapa waktu lamanya. Membiarkanya memutar lagu kembali, sebagai pengantar raga yang sedang merindu dan merasakan kelelahan ini, menuju peraduan yang lain dari peraduan milik Anda…

………

Baiknya

Kehilangan dirimu menyakitkan nurani
Separuh nyawa terbawa
Menyisakan perih di hatiku

Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak kubalut dengan tangis
Baiknya setiap kerinduan yang merajam
Tak ku ratapi penuh penyesalan

Ku hanya terus berharap
Ini bukan kenyataan
Kau pergi tinggalkan dunia fana
Akhiri kisah asmara kita berdua

Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak kubalut dengan tangis
Baiknya ku lepaskan segala kepedihan
Tuk merelakanmu

Mengapa semua ini terjadi
Betapa ku mencintai dirimu
Ku tak kuasa menahan kesedihan
Yang begitu dalam


Mei 2012


     saya kangen, 2014
Selengkapnya >>>

Maafkan Aku


Izinkan aku mengenang, tentangmu yang biasa saya panggil, Do.
mengenang tentangmu yang biasa kusapa tiap pagi,
dulu

Hari itu, adalah terakhir kali kudapat lihat nyata sosokmu
bukan karena saya menangisi perpisahan antara aku dan engkau,
                                  menyesali pertemuan antara aku dan engkau, atau
                                  menggugat takdir antara aku dan engkau
hanya saja, aku merasa bahwa waktu terlalu singkat untuk kau ada
di sisiku

Untukmu,
tolong, ajari aku untuk bisa tegar
bukan sekedar sabar,
bukan sekedar tenang,
tapi lebih dari sebutan ikhlas
merelakan engkau pergi yang memang untuk selamanya

Namun, catatan yang terlanjur tergores tentang dirimu ini, masih melekat
erat dalam-dalam, jauh di lubuk sanubari

Maafkan aku, yang terlalu rapuh menghadapi ini
aku tidak bisa sekuat yang orang katakan
untuk melewati bagian cerita ini


                  Februari 2012
Selengkapnya >>>

Jumat, 09 Mei 2014

Balada Sesosok Ibu



Tak hanya sembilan bulan kau repot dan jengah
menanti
menanti buah hati yang tak kau tahu
akan jadi apa besok?
atau lusa?

Kau relakan semuanya untuk
ku
kau suka durian, ikan laut, bulir-bulir jengkol
tapi saat aku mendiami rahim sempitmu, aku melarangmu makan itu semua
aku tak mau dan muak
dan kau tak marah
kau rela tinggalkan semua, untu
kku

Gemuk
,
sesuatu yang sangat kau hindari
, bahkan kau benci
tapi kau bersedia saja tanpa syarat
mengandungku yang membuat perutmu membuncit

Mengejan, mempertaruhkan nyawa yang telah kau jaga sedari kecil
hanya untuk mengeluarkanku, agar aku bisa menikmati indah duniamu
kau tak berpikir akan ancaman nyawamu

Waktu,
siang sore, malam
bahkan pagi buta saat ayam belum berkokok
kau buka mata sayupmu yang baru tertutup beberapa jam
menggendongku, mengganti celana yang aku pipisi, hingga
aku terlelap lagi, entah kapan

Kasih sayangmu,
sampai-sampai putingmu aku gigit tiap har
i melecet memerah
kau tetap ikhlas memberiku asi sehatmu
walau kau selalu meringis sakit kubuatnya

Perhatianmu,
semerta-merta tercurah habis untuku
tak perduli sepasang mata disudut kamar itu
yang mencemburuiku
padahal ia yang telah meminangmu lebih dulu jauh sebelum aku

Apalagi soal biaya
rela kau
mengayuh tulang punggungmu
untuk biaya opname dan seabrek kebutuhan formulaku
jangan ditanya lag
i
semuanya itu kau lakukan untuku

Orok – bayi – balita – anak-anak – remaja
5 fase aku lalui
dan kau tak perlu lagi serepot dulu
lihatlah!
aku sudah bisa makan sendiri
sudah bisa mandi sendiri
bahkan sudah bisa menggumuli anak orang
hahaha..
tapi aku tak setega itu, kok
tenang bu, aku selalu berangkat menuntut ilmu tiap pagi
tapi jangan salah sangka
, hanya berangkat!
aku minta uang untuk berfoya miras, rokok, dan PS bersama teman
tentu harus kau siapkan
wajib!
karna aku bilang itu uang buku dan uang bulanan.
dan lagi-lagi, tentu kau harus percaya
sepeda motor dengan alibi transportasi
handpone dan tablet dengan alasan komunikasi
semua fasilitas yang kau beri
haha..
ingin aku tertawa lepas
motor tak ubahnya roda dua yang terpakai
untuk pendukung maksiat
hp tak ubahnya hanya media koleksi film-film porno
tapi inilah kenyataan hidup, bu
, realitas!
jangan kau kaget

Pepatah itu,
air susu yang dibalas air tuba,
lumrah, bukan?
yang penting aku senang

Inilah kenyataanya, bu.
maafkan anakmu ini
entah kapan aku tersadar
membalas semua budi baikmu
tapi sempatkah?


Desember 2011


Selengkapnya >>>

Rabu, 07 Mei 2014

Jadi

Jadi
jadi apakah kita nanti?
sedang aku dan kau adalah sepasang jadi-jadian
dalam hati jadi begitu menjadi-jadi
kau jadikan aku?
aku jadikan kau?

Jadi:
aku dan kau telah menjadi
dalam ketiadaan


Mei
Selengkapnya >>>