Jumat, 04 April 2014

Yang Berkemas; Yang Bergegas


Pada gemulai tangan penamu
yang deras mengetuk sajak-sajak singkat
di lantai-lantai di depan jendela
kau ikat malam yang menoleh belakang
dengan senyum perlahan
yang menahan

Dengar saja, riuh angin saja,
menjelma alunan fur elise, kan?
yang sesekali mengeja sunyi-sunyi
sampai mulai tersisi lagi
lunakkan buaian rindu paling menyendu
pada sapaan-sapaan waktu, selalu
seakan belum pernah menjamahnya
pada sajak sejarah

Oh, sungguh, dengan ronamu, sebentar lagi,
ampas-ampas yang tercecer di ruang
segera membias, dan impas, tergilas
bak kidung perut singa pada impala
menggiring kacau tatanan rasa yang sempit
menggusur logika
di sela rintik hujan dan air mata

Tunggu aku, yang berkemas
yang bergegas


Januari 2014


Selengkapnya >>>

Tentang Kepergian


Malam terlampau sering beranjak hingga aku bingung membilangnya
membuat sebuah simetris kotak
lalu kenangan lambat laun teronggok
bertindihan dengan sesaknya
atau mengambil cangkul serta pikul, menggali lahat
guna memendam memori lalu
sekitar gurat hambar bibir, atau getar canda

Lalu aku berhitung
langkah gontai sepasang kakimu, aku mau membilangnya
membebaskan jejak disetiap hamparan mata menatap
tersambung di ujung masa, mungkin
atau di puncak segala
adalah waktu yang tetap kuasa

Bisakah airmata aku ternakan?
Mengembang biakanya di hitam cekung wajah
menjaga airmata yang paling basah
dan menunggumu menguapkanya dengan senyum

Tetap saja datang berlawanan dengan pergi
memicingkan mata, menapak punggung-punggung samar
yang akan hilang tanpa tolehan seraut wajah salam perpisahan

Kelak, dalam masa beradu pandang yang samar
akan ada tatapan kembar hitam putih yang saling bicara
mungkin tentang rindu
, atau kepergian yang terbit
lagi-lagi karena datang berlawanan dengan pergi
hanya kenangan yang kau titipkan..



Januari 2012
Selengkapnya >>>

Tangis



Untuk apa malam menyelimut, menghampiri
di atas pijakan ini?
bila kau tak maknai hati sebelum mati
orang-orang yang datang dan pergi sesekali
di depan dan di belakang
pun di samping kepalamu,
yang kini ada dua
untuk sedepa dahaga fana
juga melilitkan lidah dalam tangis, pun aku

Tapi aku, kamu, dia, dan mereka
belum mengerti arti sepenuhnya tangis, apa pilu
apa sendu, apa haru, apa rindu, apa tabu,
apa hanya tetesan dalam kalbu
kau melihatku, memintal butir tangis,
dari sepinya iba?
kau salah satu hulunya
kau ikut membuat gerigi
terus berputar dalam nadi

Lalu apa itu tangis?
sungguh aku hanyut
lalu sampai laut



Februari 2013
Selengkapnya >>>

Shadow


Aku menepi  pelan dipanjang perjalanan
Lewat lelaki bersergam hitam, memberi  tikar
Ku gelar, menikmati
“Hey! Gulung balik! Lanjutkan lari!”
Siapa yang berteriak? Oh, hanya shadow

Aku terduduk enjoy, di tepi jalan
Berlalu wanita berkerudung, memberi bantal
Tak perduli
“Hey! Bangkit malas! Sisihkan bantal itu!”
Ah, hanya teriakan shadow

Aku terbaring santai, di sisi jalan
Datang seorang berpeci, menimpuk guling
Cuek
“Hey! Bangun bodoh! Singkirkan guling itu!”
ah, hanya umpatan shadow

Aku menggeliat dalam tidur, di samping jalan
Manghampiri, bapak tua menebar selimut
Terserah
“Hey! Buka mata tolol! Singkapkan selimut itu!”
Ah, lagi-lagi shadow mengomel

Mulai tak nyenyak
“Hey, ini, kuberi kau CTM”
Ah, shadow, tumben kau baik?
“Minumlah…”

Aku terlelap, pekat
Hey! Bangunkan aku!
Shadow! Tolong!
“ah, hanya omong kosong…..”



Juli  2012
Selengkapnya >>>

Satu Tahun, Setengah


Aku telah membilang si Juli, dulu
maka aku mencari dimana Oktober
Oktober dengan segala aroma basah embun
lalu derai hujan yang merekah tanpa lelah
atau katak yang bernyanyi pada temaram lampu pinggiran
iba mengharap sisa bisa

Kemudian sebelum Juli
Juni agaknya resah
hanya terduduk lesu pada dipan bekas kucuran ketuban
berkurang satu per satu setiap satu satuan
sampai beruban
, sampai berkafan

Tak ada jeda untuk September mendengkur
selalu saja terpekur, ngelantur
tanpa mau membaur
layaknya semur jamur dengan layur,
dengan lima-enam nama lain

Agustus.
tak ada lagi tali ari
, ia telah berlari dalam kendi
dikebiri, abadi, tak bisa mati
, dibelakangmu menghantui
apa sekedar menemani
, tak sampai hati untuk pergi
meniti hari sendiri

Hari ini Desember
hujan
tersingkap lembar berikut
dan aku baru terjaga

Bulan di kalenderku hanya setengah
sedikit pun lebih,
dua hari.



Desember 2012
Selengkapnya >>>

Pertemuan Sunyi


Aku ingin kau menatapku dengan bulan, kekasih
karena tadi pagi aku berhasil membuat sajak
dan, barangkali matahari tak jadi mengusirku besok
dan, kau selamanya tetap menjadi penghuni sunyi
sebenarnya lebih dari itu, kekasih
aku masih lebih merindukan pertemuan berikutnya

Tentunya
akan ku persiapkan beberapa sajak lagi
hingga langit benar-benar runtuhkan matahari
dan, sunyi tetap mengalir karena kita
masih punya pertemuan lain
pertemuan sunyi lagi


Mei 2012


Selengkapnya >>>

Penolakan


Terasa tak pedih, bila sesuatu tak diraih?
Merasa tak sayang, bila sesuatu hanya tercetak dalam lamunan?
Ketika ingin kugapai, sesuatu itu terbang
Ketika berfikir bahwa akan kuraih, itu malah kendas dan karam mendalam

Biarlah ia hadir sekejap dalam lamunan dan angan sia sia
Memang benar, itu belum punyaku, dan tiada akan menjadi miliku



Maret 2012
Selengkapnya >>>

Pagi, lalu Aku

Sebut saja, malam tadi adalah sebaris percakapan tanpa kata dekapan
yang biasa ada sebagai pengganti lengan yang saling mengait-baitkan
aku berharap pagi nanti tiba tanpa luka
tanpa embun yang terlukai oleh pinggiran daun
dan mimpi-mimpi buruk terkulai-terbengkalai
mungkin di tempatmu, air begitu dingin menggamit beku dalam basuhan wajahmu usai terbangun
putri malu sembunyi, mengatup diri perlahan

Aku selalu ingin menyapa pagimu dengan biasa
dengan isyarat menggetar-getir segala beku
yang pernah memeluk dadaku
Ini untukmu, sayang
bisa kau baca seusai kau buka mata
dan buka sesuatu
untuk sewaktu-waktu kau bisa langsung dengan segera mengingat pagi lebih dulu
Lalu aku


Juni 2012


Selengkapnya >>>

Nyanyian dalam Gelas


Keruh matamu terdapat sebuah sketsa
2/7 kanvas tak terisi kata-kata yang
menjelma dalam bersemuka
air mata yang tak mau membaur bersama tinta
di atas layar kaca; yang mengiringi empat kaki berpasang
dalam tirai biru yang mendesir
tetapi bukan pada dadaku

Bila saja aku melihat ke keruh itu
aku menyaksikan bayangan dari bayangannya
bila saja aku rekatkan gendang telingamu
aku merasakan getarannya
tiga dari inderamu menandakan kehadirannya
seperti dingin telaga mencerminkan
sabitnya bulan tua; lengkung bibirku
mendiskripsikan wujudnya, bak
menghitung rintik kabut
membenarkan rahasia ujung pelangi

Suaraku mendengung,
menjerit bagai desah nafas bayi
semerbak bagai harum waru
menderu bagai nyanyian dalam gelas
menyatu dalam gemuruh laut
di puncak jiwamu


September 2012


Selengkapnya >>>

Nantian


Kau nanti aku di pucuk kebisingan
setiap dentang, seiring perubahan derajat jarum
dari rangkul gulita dalam gelap
kau (harus) sadar, telah membeku
atau menguap lenyap

Kau nanti aku di bisu kemarau
di selipan dahan ranting berguguran
hingga lamuk memudar berserakan

Sadarlah, terang tak hanya siang


Oktober 2012


Selengkapnya >>>

Mimpi Merinding


Mei - Juni...
Setelah semua isyarat menuju padamu, kasih
aku pun tahu, perjalanan tak harus ke hulu
lalu, malam menjadi ibu
juga muara ketulusanku

Aku tak tahu, apa bakal sampai padamu
pagi nanti
langkahku terkoyak arus berbatu
di lenganku
tumbuh duri-duri bambu, dan
sepanjang pandangku

Umbi-umbu memburu, seperti kerinduan yang
merambat dan membebat kakiku
aku tengadah
doa-doa gugur, dedaun pun mengiba pada tanah

Di atasnya, mimpiku merinding
almanak menguning
seperti kuncup-kuncup perdu yang layu
dan, buah-buahan jatuh
bersama tahun-tahun yang terus memburu


Juni 2012


Selengkapnya >>>

Mestinya Bercermin


Mestinya bercermin
bukan bertanya mengapa, apa, serta kenapa
atau menyalahkan tentang kehausan yang memaksa
apalagi menyandarkan pada kebencian
yang memberi tempat untuk melintas
bukan mengumpat, menyumpah

Mestinya bercermin
bertanya pada diri, sebab ialah yang tahu
hal terlampaui dahulu
melontarkan dan menepiskan peradaban
menampakan kekuasaan, mengentakan ombak
menyeruakan keangkuhan
mengguncang, menyatukan jiwa dan jasad

Mestinya bercermin
bukan bertanya
mengapa tidak?
atau karena ulah yang seringkali terbuai
acuh dan mengabaikan
saksi fana kehidupan

Mestinya bercermin
bukan bertanya
bahwa hidup adalah (bukan) karma
menuai tanpa menebar?

Tapi aku benci cermin. Ia hanya menampakan satu sisi saja tanpa perduli bahwa aku mempunyai sisi yang lain. Lalu? Tidak.



Maret 2012
Selengkapnya >>>

Menyapamu


Menyapamu dalam diam
membawaku dalam imaji secarik kertas
bertuliskan huruf-huruf pemujaan merah mudanya rasa
sebentar
lalu tertutupi ketenangan sekaligus kehilangan

Menyapamu dalam sepasang mata
yang segera pergi saat tertumbuk sama
karena tiga tertutup as hitam

Menyapamu
adalah aku menyimpan luka, semakin merunduk ranum
berselimut harapan dalam hampa


Agustus 2012


Selengkapnya >>>

Mengapa Lari?


Mengapa kau harus lari dalam gerimis yang tak ku kejar
suatu jawab yang tak kau tanggung terlihat
apa pikir hidup ini

Buang segala kuasa
dalam dada dan bentuk rupa
ku melihat, mengentas tangan ternoda
atas nama kau menolak
mimpi berbalut selendang kau pinta
memang siapa aku kau berkuasa
jauh kau buat dari takaranmu

Kau meminta tapi membalik kata
tak mengakui diperbudak tali
tak tahu mau dan tak mau tahu
belajar berdiskusi setelah mencuri
Lalu. Dimana?


Juni 2012


Selengkapnya >>>

Karam dalam Suram


Dingin pagi tanpa senyum sisa bulan, aku karam dalam suram
engkau yang meronta tanpa kata, bergejolak dalam rasa
diam, diam, diam, dan diam, menggores, sangat
bebatuan dan ombak sudah cukup mewakili kebisuan
cukuplah rumput yang hanya bergoyang
itu memenjaraku dalam seribu jeruji tanya

Mencoba menjamahmu lewat rindu yang tersisa, melalui senyum,atau sepotong sapaan
memburu celotehmu, mencari rona serimu
apa yang harus aku tukar untuk sudahi diamu?
ingatlah sewaktu itu, ketika hangat terasa
merindukan lebih dari sekedar menanti
menuntunku untuk mengingatmu, mempertegas sebuah hal tentang kau

Aku dan kenanganku mencari sebuah realitas di dalam imaji warna
pulang dari lingkar dunia yang menjemukan
tanpa bisa memahami dari peliknya rapuh dan keruh
dalam diamu ku termangu
yang ku ingin bibir itu kembali tersenyum, merona merekah



April 2012
Selengkapnya >>>

Just for Remeber


Just for remember

He's real in my eyes
he in front of me
but can't touch him

He is real in my life
but, impossible to have him

Ever.
Selengkapnya >>>

Jam Sepuluh Malam


Barusan hujan menghujami langit-langit atapmu, ya?
atau kemarin, juga sehari sebelum itu
oleh air, mengguruh, lalu kilau petir Thor
serta letupan khas tiap membentur dinding di balik dada

Sebentar-sebentar bisa terang, memang
tapi ini musim malam, sayang.
Pelangi hanya tercecer di jendela, mengendap
pudari bening kaca kamarmu
tinggal percikan mata yang mengering dan sebingkai tisu,
juga gema isakmu
berserakan mendengung dalam kamar, lalu hilang ditelan ranjang

Waktu yang tengah malam itu, apa menangiskanmu,
apa juga melelapkan lelah
Selimut hanya menjelmakannya sebagai nyanyian
tanpa memelukmu, kan?


Oktober 2012


Selengkapnya >>>

Di Ujung Garis Pelipis


Di antara warna langit yang malam
dan bulan yang tercukil buta
ragam warna-warni merekah
dari harapan, kenangan, dan kasih kita
akankah dipupuk-siramkan lagi, lagi segar
suratan hitam yang memberi hidup
karena siang-siang yang terik dan merah

Di ujung garis pelipis, mata menemu mata
Layaknya beratus hari umur sebelum mati
senantiasa memandang
sedang di depan kelam, yang jauh dari bangkit
mata-mata setelah ini mengasah guratan di bibir

Biarlah segala dan semua membanjir
di antara menit-menit malam
begitu meranggas kehidupan
yang masih belum ada terjemahan
hanya dilengkapkan buaian sepi
dan dalam persegi yang memenjara



Maret 2013
Selengkapnya >>>

Di Mana Aku?


Terlalu rumit bila saja aku harus mengartikan dirimu
Di satu menit, aku seperti berdiri kokoh di dalam dirimu, kokoh
Tapi dimenit yang lain, aku ini hilang, seperti musnah, sama sekali tanpa bekas, dan payah
Aku tak mampu berbuat apa-apa
Begitu besarnya kasih yang telah terpahat, dan telah kusimpan, padamu

Ratusan jam, ribuan menit, jutaan detik
Telah kulalui bersamamu, walaupun tanpa ikatan yang jelas
Yang pasti, yang sama-sama pernah kita nikmati
Namun, hatimu itu tak pernah terbaca.
Katakanlah padaku, dengan bahasa yang bisa ku mengerti, diruang mana aku telah bersemayam
Diluar sana yang kau sebut sebatas teman, atau di dalam sini sebagaimana kau sebut kasih?


Oktober 2011


Selengkapnya >>>

Dengan Menatap Langit


Malam begini
memandang laju air terlalu anyir
terperangkap, terseret, lalu hanyut
kita berbiak terlalu banyak
diterpa kerlingan luka masa silam
sepertinya lelah, lalu kita menguap
tapi, dengarlah lolongan itu
di tengah-tengah, di dalam batin

Lalu aku,
terus menyusuri jejak, dengan menatap langit
terus menghibur diri, dengan menatap langit
Lalu, tahu-tahu bulan sabit akan menjadi purnama


Januari 2013


Selengkapnya >>>

Dalam Tarianmu


Kau sosok cantik wakil rupawan sebuah paras
dengan talentamu yang tak hanya kau satu-satunya
tarian yang indah diselingi hentakan gemulai
dengan sepasang mata lentik, dan
seringai senyum pembeku
hingga tak sedikit yang menyanjungmu,
memujimu, menyukaimu
dan tentu dengan tanggapan
yang seyogyanya ala kadarnya,
hanya untuk tarik perhatianmu, mungkin
pun juga aku termasuknya.
Tapi kau perlu tahu
di balik gemulainya ayunan tarimu
selalu saja menimbulkan polemik yang mencabik
memekik, walau perlahan
tanpa kau pernah tahu lelah



Januari 2012
Selengkapnya >>>

Bungaku

Hei bunga, kembang dari segala kembang
Tampak ayumu membuatku terpana, hingga aku tak sudi ada kumbang merayumu,
Lalu mencumbumu, dan bahkan menjatuhkan malumu
Ingin selalu melindungimu, dari sengatan kumbang tak tahu diri

Hei bunga, primadona
Dunia lelaki terbuai olehmu
Ukiran parasmu, kesolehan yang didamba pujangga
Mukamu tertunduk, menutup serimu
Dan kau bungkus dengan kain penutup dada, kau jaga dengan rapihnya

Hei bunga, kau tahu harum kasturi?
Menyentrik hidung-hidung belang
Walau badanmu tak tertempeli parfum
Keanggunanmu yang senantiasa semerbak mewangi

Bahagia, itu sungguh
Karena aku memilikimu.



Januari 2012
Selengkapnya >>>

Aku Masih Ingat


Masih aku ingat
saat bersamamu berdiri menatap hamparan pohon menguning, hampir layu
lalu senyumu terurai begitu saja
bersebelahan denganmu
, ada ujaran teramat samar
beribu makna yang ingin kau sampaikan

Masih aku ingat
segurat lekuk bibir manismu
yang menentramkan jiwa, meneduhkan
suara khasmu saat merajuk
, menuruti segala inginmu

Pun masih aku ingat
kamu
, dan semua tentangmu

Angin
, sampaikan rinduku bersama desiran lembutmu
katakan padanya yang tlah jauh
dan jatuh di sana
Sekarang aku berdiri mematung
dihadapan hamparan pohon
yang telah layu
sendiri aku tersenyum, lagi-lagi teringat
semua tentangmu

Kini,
di sini,
Di taman adam ini,
Aku enggan pergi..



Februari 2012
Selengkapnya >>>

Aku Ingin


Aku ingin bertualang di rimba matamu
mata-mata yang tak henti-henti bergerimis
dan sewaktu-waktu menjadi batu
atau engkau telah menari di atas peta buta
yang tiap hari ku isi garis tepi


Mei 2012


Selengkapnya >>>

(Masih Tentang) Hujan


Menyapa kembali basah hujan yang pernah tertinggal
lagi, lagi, dan lagi, tak pernah usai
tentang hujan
atau memang tak ada hal lain?
merindu dan mencintai hujan

Bukan sekedar bau tanahnya yang kering membasah
atau mengenai kenangan yang tertera di dalamnya
tapi tentang hujan yang pernah mengenaiku
namun bukan lagi hujan yang sama

Ingin aku menjadi hujan
Riang, bijak, bersahabat, setia kawan, tak pernah sendiri
Dan dingin tentunya

Hujan
, hujan, hujan, dan hujan.
memang benar pernah ada kenangan yang tersendat dengan hujan
kenangan manis pahit saat bersama hujan
tetapi lebih dari itu,
adalah tentang keriangan hujan, yang takan pernah membiarkanku sepi saat ia dating
lalu juga tentang kebijakanya meredam amarah
menyejukan hal yang tengah panas mendidih
serta penyemarakan saat bulir tangis menyejukan.

Dan tentang penggagalan acara yang selalu saja hujan meraih sukses?
aku ingin sedikit merubah, membengkokan paradigma yang menggelayut kokoh.

Kenapa hujan dibiarkan datang hanya ketika ada sedih dan sendiri saja?
akan kuberi kesempatan padanya, meramaikan apa yang aku sebut dengan bahagia
tak akan mengusirnya, sebab mungkin ada bahagia di tiap tetes kristalnya.

''... Aku selalu bahagia saat hujan turun ...''



Februari 2012
Selengkapnya >>>