Pada gemulai tangan penamu
yang deras mengetuk sajak-sajak singkat
di lantai-lantai di depan jendela
kau ikat malam yang menoleh belakang
dengan senyum perlahan
yang menahan
Dengar saja, riuh angin saja,
menjelma alunan fur
elise, kan?
yang sesekali mengeja sunyi-sunyi
sampai mulai tersisi lagi
lunakkan buaian rindu paling menyendu
pada sapaan-sapaan waktu, selalu
seakan belum pernah menjamahnya
pada sajak sejarah
Oh, sungguh, dengan ronamu, sebentar lagi,
ampas-ampas yang tercecer di ruang
segera membias, dan impas, tergilas
bak kidung perut singa pada impala
menggiring kacau tatanan rasa yang sempit
menggusur logika
di sela rintik hujan dan air mata
Tunggu aku, yang berkemas
yang bergegas
Januari 2014