Keruh matamu terdapat sebuah sketsa
2/7 kanvas tak terisi kata-kata yang
menjelma dalam bersemuka
air mata yang tak mau membaur bersama tinta
di atas layar kaca; yang mengiringi empat kaki berpasang
dalam tirai biru yang mendesir
tetapi bukan pada dadaku
Bila saja aku melihat ke keruh itu
aku menyaksikan bayangan dari bayangannya
bila saja aku rekatkan gendang telingamu
aku merasakan getarannya
tiga dari inderamu menandakan kehadirannya
seperti dingin telaga mencerminkan
sabitnya bulan tua; lengkung bibirku
mendiskripsikan wujudnya, bak
menghitung rintik kabut
membenarkan rahasia ujung pelangi
Suaraku mendengung,
menjerit bagai desah nafas bayi
semerbak bagai harum waru
menderu bagai nyanyian dalam gelas
menyatu dalam gemuruh laut
di puncak jiwamu
2/7 kanvas tak terisi kata-kata yang
menjelma dalam bersemuka
air mata yang tak mau membaur bersama tinta
di atas layar kaca; yang mengiringi empat kaki berpasang
dalam tirai biru yang mendesir
tetapi bukan pada dadaku
Bila saja aku melihat ke keruh itu
aku menyaksikan bayangan dari bayangannya
bila saja aku rekatkan gendang telingamu
aku merasakan getarannya
tiga dari inderamu menandakan kehadirannya
seperti dingin telaga mencerminkan
sabitnya bulan tua; lengkung bibirku
mendiskripsikan wujudnya, bak
menghitung rintik kabut
membenarkan rahasia ujung pelangi
Suaraku mendengung,
menjerit bagai desah nafas bayi
semerbak bagai harum waru
menderu bagai nyanyian dalam gelas
menyatu dalam gemuruh laut
di puncak jiwamu
September 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar