Untuk apa malam menyelimut,
menghampiri
di atas pijakan ini?
bila kau tak maknai hati sebelum mati
orang-orang yang datang dan pergi sesekali
di depan dan di belakang
pun di samping kepalamu,
yang kini ada dua
untuk sedepa dahaga fana
juga melilitkan lidah dalam tangis, pun aku
Tapi aku, kamu, dia, dan mereka
belum mengerti arti sepenuhnya tangis, apa pilu
apa sendu, apa haru, apa rindu, apa tabu,
apa hanya tetesan dalam kalbu
kau melihatku, memintal butir tangis,
dari sepinya iba?
kau salah satu hulunya
kau ikut membuat gerigi
terus berputar dalam nadi
Lalu apa itu tangis?
sungguh aku hanyut
lalu sampai laut
di atas pijakan ini?
bila kau tak maknai hati sebelum mati
orang-orang yang datang dan pergi sesekali
di depan dan di belakang
pun di samping kepalamu,
yang kini ada dua
untuk sedepa dahaga fana
juga melilitkan lidah dalam tangis, pun aku
Tapi aku, kamu, dia, dan mereka
belum mengerti arti sepenuhnya tangis, apa pilu
apa sendu, apa haru, apa rindu, apa tabu,
apa hanya tetesan dalam kalbu
kau melihatku, memintal butir tangis,
dari sepinya iba?
kau salah satu hulunya
kau ikut membuat gerigi
terus berputar dalam nadi
Lalu apa itu tangis?
sungguh aku hanyut
lalu sampai laut
Februari
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar