Dingin pagi tanpa senyum sisa bulan,
aku karam dalam suram
engkau yang meronta tanpa kata, bergejolak dalam rasa
diam, diam, diam, dan diam, menggores, sangat
bebatuan dan ombak sudah cukup mewakili kebisuan
cukuplah rumput yang hanya bergoyang
itu memenjaraku dalam seribu jeruji tanya
Mencoba menjamahmu lewat rindu yang tersisa, melalui senyum,atau sepotong sapaan
memburu celotehmu, mencari rona serimu
apa yang harus aku tukar untuk sudahi diamu?
ingatlah sewaktu itu, ketika hangat terasa
merindukan lebih dari sekedar menanti
menuntunku untuk mengingatmu, mempertegas sebuah hal tentang kau
Aku dan kenanganku mencari sebuah realitas di dalam imaji warna
pulang dari lingkar dunia yang menjemukan
tanpa bisa memahami dari peliknya rapuh dan keruh
dalam diamu ku termangu
yang ku ingin bibir itu kembali tersenyum, merona merekah
engkau yang meronta tanpa kata, bergejolak dalam rasa
diam, diam, diam, dan diam, menggores, sangat
bebatuan dan ombak sudah cukup mewakili kebisuan
cukuplah rumput yang hanya bergoyang
itu memenjaraku dalam seribu jeruji tanya
Mencoba menjamahmu lewat rindu yang tersisa, melalui senyum,atau sepotong sapaan
memburu celotehmu, mencari rona serimu
apa yang harus aku tukar untuk sudahi diamu?
ingatlah sewaktu itu, ketika hangat terasa
merindukan lebih dari sekedar menanti
menuntunku untuk mengingatmu, mempertegas sebuah hal tentang kau
Aku dan kenanganku mencari sebuah realitas di dalam imaji warna
pulang dari lingkar dunia yang menjemukan
tanpa bisa memahami dari peliknya rapuh dan keruh
dalam diamu ku termangu
yang ku ingin bibir itu kembali tersenyum, merona merekah
April 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar