Hari Minggu pukul dua lebih tujuh
kau ingat?
saat buih ombak menuruti apa kata musisimu
berkejaran saling membalap
ke pantai
Dua menit kita berkedip,
bersiul,
berambisi, tentu.
Sesaat lalu Selasa
maka aku haus dan engkau lapar
kicau kita pun menganga
dan itu, masih pukul dua lebih sembilan
angin pantai jadi berhembus, sebelum rabu.
Aku pun telah melukis langit dengan arang, warnaku.
yang biru, laut di bawahnya
yang abu-abu, lamuk penyelimutnya,
yang hitam, ujung penggoresnya.
Kenapa tetap kau cipratkan keruh air garam?
saat buih ombak menuruti apa kata musisimu
berkejaran saling membalap
ke pantai
Dua menit kita berkedip,
bersiul,
berambisi, tentu.
Sesaat lalu Selasa
maka aku haus dan engkau lapar
kicau kita pun menganga
dan itu, masih pukul dua lebih sembilan
angin pantai jadi berhembus, sebelum rabu.
Aku pun telah melukis langit dengan arang, warnaku.
yang biru, laut di bawahnya
yang abu-abu, lamuk penyelimutnya,
yang hitam, ujung penggoresnya.
Kenapa tetap kau cipratkan keruh air garam?
Desember
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar